Selasa, 06 Agustus 2013

The Reason Is Love


Ada perasaan sesak yang membuatku rindu…
               
             Setengah jam yang lalu air mataku lepas kendali.Entah sejak kapan isakanku keluar.Tangisanku makin parau ketika mataku menangkap sebuah figura foto kecil.Meski kecil,foto di dalamnya mengandung makna yang sangat besar dalam hidupku.Kenangan besar yang kini tak bisa terulang kembali.Mom… where are you?


Tok . . . tok . . . tok . . .

Baby,kau sudah tidur?”
               
             Tanya suara rendah seorang pria 32 tahun.Dia ayahku.Ayah yang sangat-sangat ku cintai.Satu-satunya orang yang ku miliki dalam hidupku saat ini.Jika boleh aku meminta,aku ingin ayah menjadi ibuku juga.Agar perasaan sesak yang menghantam hatiku bisa terobati.Agar aku tak perlu menangis tiap malam untuk meraungkan suara dalam benakku yang terus meronta meminta Tuhan mengembalikan hal yang membuatku rindu.

Baby?”
               
             Sekali lagi ayah bersuara.Aku enggan untuk menjawab.Biarkan ayah menganggap aku tidur.Dengan begitu mungkin ayah akan lebih tenang dan tak berpikir macam-macam tentangku.Aku.Jung Jae Yun.Seorang gadis 10 tahun yang merindukan ibunya…

Aku ingin terbang,sejenak saja jika itu adalah cara untukku bertemu ibu…
                
            Setiap kali aku bertanya ke mana ibu pergi…ayah akan bilang bahwa ibu hanya tidak di sini.Ia tidak pergi,ibu tidak pergi.Ia hanya tidak ada di sini.Aku percaya kata ayah.Kapan ayahku pernah berbohong padaku?Jika aku meminta boneka beruang saat ini dan ayah bilang besok akan dibelikan.Maka besok boneka yang ku minta sudah duduk dengan senyuman damai di atas kasurku.Aku senang,ayah selalu jujur padaku.
                
            Pagi ini aku diantar ayah ke sekolah.Aku berjalan dengan tenang menyusuri koridor sekolah yang cukup ramai.Langkahku terhenti ketika melihat kerumunan anak manusia di depan papan pengumuman sekolah.Mereka berlomba-lomba untuk sekedar melihat isi pengumuman itu.Aku heran,kertas yang paling-paling hanya bertuliskan deretan huruf dan beberapa angka yang sering disebut orang pengumuman itu membuat anak-anak seluruh sekolah rela berjinjit untuk beradu tinggi demi melihatnya.Sekedar meliriknya mungkin.
               
             Lama-lama aku tertarik karena beberapa saat aku berhenti dan memandangi mereka,tak ada satupun yang tampak tak heboh.Dan,bukannya berkurang semakin lama mereka yang berkerumun semakin banyak.Ku langkahkan kakiku menuju mereka.Belum sempat aku melihat pengumumannya aku sudah dicegat oleh pandangan tak suka dari mereka semua yang ada di sana.

“Kelihatannya anak ayah itu  mau melihat pengumuman ini ya?” Kata seorang anak perempuan yang rambut hitam ikalnya diikat jadi dua.Entah kenapa hatiku nyeri seketika.

“Wah,tapi untuk anak ayah itu tidak boleh lho.Ini khusus untuk anak ibu.Ah tidak,tidak….lebih tepatnya untuk anak ayah dan ibu.” Sahut seorang anak perempuan lain yang  memiliki mata sipit dan pipi sedikit chubby.Pertahananku runtuh ketika seseorang melemparkan kertas pengumuman tersebut ke wajahku.Kertas tersebut jatuh dihadapan kakiku dan dapat ku baca tulisan di sana.
‘BEST OF THE BEST PARTNER STORY CHALLENGE WITH MOM’
Tuhan….aku ingin terbang jika itu adalah cara untukku bertemu ibu.

Ini bukan yang keseratus kali,memang…
               
             Jam pelajaran sudah berakhir sejak 1 jam yang lalu.Aku sedang berada di taman belakang sekolah.Hari ini aku bolos jam pelajaran terakhir.Dan hingga saat ini aku baru berhenti menangis.Ayah pasti akan marah jika tau aku melanggar tata tertib sekolah.Aku jadi takut untuk pulang.Perlahan air mataku jatuh lagi.Ah!mau sampai kapan kau tak berhenti,hah?!Dasar air mata menyebalkan.Seenaknya saja jatuh dari mataku.Dan kau lagi (memukul dada sebelah kiri),kenapa seenaknya saja berteriak nyeri?!Aku benci kalian berdua.
                
            Ku putuskan pulang dengan berjalan kaki.Aku tidak mau menelepon ayah  meski telepon sekolah sudah pasti sedang menganggur.Jarak rumahku memang jauh.Tapi mungkin aku kan bisa saja naik bus.Aku sedikit berlari untuk mengatur dadaku yang sedang sesak.Bukan karena sesak napas,tapi lebih tepatnya nyeri.Aku tak sadar jika dari arah kiriku ada orang yang juga sedikit berlari.Tabrakan antara kami tak bisa terhindarkan.

“Anak manis,kau tidak apa-apa?” Tanya ahjumma tersebut setelah berhasil bangun dari jatuh terjerembab.Aw!Ternyata lututku tadi bergesekan dengan trotoar.Pantas saja sakit.Darahnya saja tak kunjung berhenti mengalir.

Omo!Lututmu terlu---“ Lama,ahjumma tersebut hanya memandang dalam-dalam ke arah mataku.Beberapa saat kemudian mata manis ahjumma tersebut berkaca-kaca.Bibir merah indahnya bergetar perlahan.Tunggu….rasanya aku pernah melihat yang sama dengan ahjumma itu di depan cermin.Itukan mata dan bibirku?

“J-jaeyun?” Mwo?Ahjumma itu tau namaku?Dari mana?Name tag-ku terpasang di jasku dan sekarang aku sedang tidak memakai jas tersebut.Belum sempat aku bertanya,ahjumma tersebut memelukku dengan erat.Sangat erat hingga ada hangat yang menyengatku dan masuk ke dalam hatiku yang tadinya nyeri.Sensasinya aneh,sekarang aku malah membalas pelukan tersebut.

“Ini ibu..chagi.” ibu?benarkah?Akhirnya aku bertemu ibu meski bukan yang keseratus kalinya.

Ada ikatan yang lebih kuat dari apapun…
                
            Ibu menggendongku dipunggungnya setelah ia membalut lukaku dengan sapu tangannya.Aku ingin menangis,aku terharu.Tapi air mataku tak kunjung bisa keluar.Ah…biarkan saja.Bukankah ini yang kuharapkan?Bertemu ibu kemudian air mataku tak jatuh lagi.Sebenarnya aku tidak tega.Aku kan anak berusia 10 tahun dan bertubuh tinggi.Masa digendong ibu yang jelas-jelas ia baru pulang kerja.Beberapa map yang ibu  bawa aku pegang di kedua tanganku yang juga sedang berpegangan di perpotongan leher dan bahu ibu.

“Ibu..turunkan aku.Aku kan masih bisa berjalan?”

“Kau yakin?Tapi kakimu sakit chagi.”

“Aku tidak apa apa.”

            Setelah ibu menurunkanku,handphonenya bergetar.Segera ia mengambilnya dari dalam tas dan mengangkatnya.Sebelum itu aku sempat melihat wallpaper ibu yang sedang bersama seorang pria tampan.Siapa ya?

Yoboseyoah,ne.Aku baik…Aku sedang bersamanya…Kau tak percaya?...Aku di dekat halte bus,tak jauh dari sekolah Jaeyun…Annyeong~” Aku tak salah dengar.Tadi namaku disebut ibu.Dan tadi itu,samar-samar terdengar sepertinya ibu bertelepon dengan seorang pria.Apakah itu suami baru ibu?ANDWAE!!!!

'“Jaeyun!” Ayah berseru dari samping kananku.Sontak aku berlari ke arahnya.Dengan segera ayah memelukku dan menggendongku seraya memutarnya.Ah,aku malu.Seperti anak 5 tahun yang sudah lama tak ditemui.

“Ayah,aku bertemu dengan ibu lho!Itu dia orangnya.” Jari kurusku menunjuk perempuan bertubuh ramping yang sejak tadi setia tersenyum manis ke arahku dan ayah.Seperti sedang menonton film yang ceritanya ‘happily ever after’ saja.Ayah berjalan ke arah ibu masih dengan aku di dalam gendongannya.Sesampai di hadapan ibu,ayah menurunkanku dan kemudian memeluk ibu erat-erat seolah mengisyaratkan ‘jangan pergi lagi’.

“Aku merindukanmu.Sangat-sangat merindukanmu.Apapun yang akan terjadi nanti,tolong jangan pergi lagi.”

“Aku juga sangat-sangat merindukanmu.Selama ini kita hanya dapat bertelepon atau berkirim pesan.Sudah lama aku tidak menatapmu secara langsung.I love you…and I’m still loving you.Aku janji takkan pergi lagi apapun yang terjadi.”
                
            Setelah mereka mengucapkan sederetan kata-kata romantis yang diam-diam sering ku tonton di acara televisi itu,aku menutup mataku.Ahh…konsumsi dewasa.Ayah mengajariku untuk berkembang sesuai umur.Eh,tunggu….kata ibu tadi mereka hanya bisa sering bertelepon dan berkirim pesan?berarti…. (menoleh ke kanan kiri memastikan tak ada yang datang ke arah mereka) orang yang bertelepon dengan ibu tadi adalah ayah?Astaga…bagaimana aku bisa lupa dengan suara ayah.Padahal aku juga sering bertelepon dengannya.Dan berarti pria di wallpaper hp ibu tadi juga ayah?Tampan dan kelihatan sangat muda sekali?
               
             Sudahlah,apapun itu yang terpenting adalah ada ikatan yang jauh lebih kuat dari apapun.Yang bisa menyatu meski dunia mencoba memotongnya.Yaitu,ikatan cinta dalam keluarga.


EPILOG
Aku kembali terharu setelah mendengarkan cerita ibu dan ayah yang sambung menyambung menjadikan suatu keselarasan kata kata yang akan membuat siapapun menangis jika mendengar jeritan yang terkandung di dalamnya.Tak kedengaran dengan jelas memang.Ibu memang tak pernah sekalipun pergi,sebelum hari ini,sebelum saat ini ibu hanya tak ada di sini.Tak ada di sampingku,bukan pergi dariku.

Ibu hanya menjauh dari kehidupan ayah karena sebenarnya nenek tak menyukai ibu.Ayah dijodohkan tapi ayah menolaknya.Dan jika mereka nekat berhubungan,maka aku akan diambil dan diasuh nenek yang terkenal hanya mementingkan bisnis.Itu juga alasan mengapa aku dan ayah tinggal di apartemen berdua saja selama tak ada ibu.

“Akhirnya aku bisa mendapat posisi baik dan mungkin akan menjadi juaranya dengan kisahku dan ibu di sekolah nanti.”

Mwo?” Ayah dan ibu bingung.Segera aku mengambil kertas yang sudah hampir tak berbentuk karena ku remas-remas,dari dalam saku rok-ku.

Best of the Best Partner Story Challenge With Mom?” Baca ayah dan ibu secara bersamaan.



-There is no love without any story…