Ada perasaan sesak yang membuatku rindu…
Setengah
jam yang lalu air mataku lepas kendali.Entah sejak kapan isakanku
keluar.Tangisanku makin parau ketika mataku menangkap sebuah figura foto
kecil.Meski kecil,foto di dalamnya mengandung makna yang sangat besar dalam
hidupku.Kenangan besar yang kini tak bisa terulang kembali.Mom… where are you?
Tok . . . tok . . .
tok . . .
“Baby,kau sudah
tidur?”
Tanya suara rendah seorang
pria 32 tahun.Dia ayahku.Ayah yang sangat-sangat ku cintai.Satu-satunya orang
yang ku miliki dalam hidupku saat ini.Jika boleh aku meminta,aku ingin ayah
menjadi ibuku juga.Agar perasaan sesak yang menghantam hatiku bisa
terobati.Agar aku tak perlu menangis tiap malam untuk meraungkan suara dalam
benakku yang terus meronta meminta Tuhan mengembalikan hal yang membuatku
rindu.
“Baby?”
Sekali lagi ayah
bersuara.Aku enggan untuk menjawab.Biarkan ayah menganggap aku tidur.Dengan
begitu mungkin ayah akan lebih tenang dan tak berpikir macam-macam
tentangku.Aku.Jung Jae Yun.Seorang gadis 10 tahun yang merindukan ibunya…
Aku ingin
terbang,sejenak saja jika itu adalah cara untukku bertemu ibu…
Setiap
kali aku bertanya ke mana ibu pergi…ayah akan bilang bahwa ibu hanya tidak di
sini.Ia tidak pergi,ibu tidak pergi.Ia hanya tidak ada di sini.Aku percaya kata
ayah.Kapan ayahku pernah berbohong padaku?Jika aku meminta boneka beruang saat
ini dan ayah bilang besok akan dibelikan.Maka besok boneka yang ku minta sudah
duduk dengan senyuman damai di atas kasurku.Aku senang,ayah selalu jujur
padaku.
Pagi
ini aku diantar ayah ke sekolah.Aku berjalan dengan tenang menyusuri koridor
sekolah yang cukup ramai.Langkahku terhenti ketika melihat kerumunan anak
manusia di depan papan pengumuman sekolah.Mereka berlomba-lomba untuk sekedar
melihat isi pengumuman itu.Aku heran,kertas yang paling-paling hanya
bertuliskan deretan huruf dan beberapa angka yang sering disebut orang
pengumuman itu membuat anak-anak seluruh sekolah rela berjinjit untuk beradu
tinggi demi melihatnya.Sekedar meliriknya mungkin.
Lama-lama
aku tertarik karena beberapa saat aku berhenti dan memandangi mereka,tak ada
satupun yang tampak tak heboh.Dan,bukannya berkurang semakin lama mereka yang
berkerumun semakin banyak.Ku langkahkan kakiku menuju mereka.Belum sempat aku
melihat pengumumannya aku sudah dicegat oleh pandangan tak suka dari mereka
semua yang ada di sana.
“Kelihatannya anak ayah itu
mau melihat pengumuman ini ya?” Kata seorang anak perempuan yang rambut
hitam ikalnya diikat jadi dua.Entah kenapa hatiku nyeri seketika.
“Wah,tapi untuk anak ayah itu tidak boleh lho.Ini khusus
untuk anak ibu.Ah tidak,tidak….lebih tepatnya untuk anak ayah dan ibu.” Sahut
seorang anak perempuan lain yang
memiliki mata sipit dan pipi sedikit chubby.Pertahananku runtuh ketika
seseorang melemparkan kertas pengumuman tersebut ke wajahku.Kertas tersebut
jatuh dihadapan kakiku dan dapat ku baca tulisan di sana.
‘BEST OF THE BEST PARTNER STORY CHALLENGE WITH MOM’
Tuhan….aku ingin terbang jika itu adalah cara untukku bertemu ibu.
‘BEST OF THE BEST PARTNER STORY CHALLENGE WITH MOM’
Tuhan….aku ingin terbang jika itu adalah cara untukku bertemu ibu.
Ini bukan yang keseratus
kali,memang…
Jam
pelajaran sudah berakhir sejak 1 jam yang lalu.Aku sedang berada di taman
belakang sekolah.Hari ini aku bolos jam pelajaran terakhir.Dan hingga saat ini
aku baru berhenti menangis.Ayah pasti akan marah jika tau aku melanggar tata tertib
sekolah.Aku jadi takut untuk pulang.Perlahan air mataku jatuh lagi.Ah!mau
sampai kapan kau tak berhenti,hah?!Dasar air mata menyebalkan.Seenaknya saja
jatuh dari mataku.Dan kau lagi (memukul dada sebelah kiri),kenapa seenaknya
saja berteriak nyeri?!Aku benci kalian berdua.
Ku
putuskan pulang dengan berjalan kaki.Aku tidak mau menelepon ayah meski telepon sekolah sudah pasti sedang
menganggur.Jarak rumahku memang jauh.Tapi mungkin aku kan bisa saja naik bus.Aku
sedikit berlari untuk mengatur dadaku yang sedang sesak.Bukan karena sesak
napas,tapi lebih tepatnya nyeri.Aku tak sadar jika dari arah kiriku ada orang
yang juga sedikit berlari.Tabrakan antara kami tak bisa terhindarkan.
“Anak manis,kau tidak apa-apa?” Tanya ahjumma tersebut setelah berhasil bangun dari jatuh
terjerembab.Aw!Ternyata lututku tadi bergesekan dengan trotoar.Pantas saja
sakit.Darahnya saja tak kunjung berhenti mengalir.
“Omo!Lututmu
terlu---“ Lama,ahjumma tersebut hanya
memandang dalam-dalam ke arah mataku.Beberapa saat kemudian mata manis ahjumma tersebut berkaca-kaca.Bibir
merah indahnya bergetar perlahan.Tunggu….rasanya aku pernah melihat yang sama
dengan ahjumma itu di depan
cermin.Itukan mata dan bibirku?
“J-jaeyun?” Mwo?Ahjumma
itu tau namaku?Dari mana?Name tag-ku
terpasang di jasku dan sekarang aku sedang tidak memakai jas tersebut.Belum
sempat aku bertanya,ahjumma tersebut
memelukku dengan erat.Sangat erat hingga ada hangat yang menyengatku dan masuk
ke dalam hatiku yang tadinya nyeri.Sensasinya aneh,sekarang aku malah membalas
pelukan tersebut.
“Ini ibu..chagi.” ibu?benarkah?Akhirnya
aku bertemu ibu meski bukan yang keseratus kalinya.
Ada ikatan yang lebih
kuat dari apapun…
Ibu
menggendongku dipunggungnya setelah ia membalut lukaku dengan sapu
tangannya.Aku ingin menangis,aku terharu.Tapi air mataku tak kunjung bisa
keluar.Ah…biarkan saja.Bukankah ini yang kuharapkan?Bertemu ibu kemudian air
mataku tak jatuh lagi.Sebenarnya aku tidak tega.Aku kan anak berusia 10 tahun
dan bertubuh tinggi.Masa digendong ibu yang jelas-jelas ia baru pulang
kerja.Beberapa map yang ibu bawa aku
pegang di kedua tanganku yang juga sedang berpegangan di perpotongan leher dan
bahu ibu.
“Ibu..turunkan aku.Aku kan masih bisa berjalan?”
“Kau yakin?Tapi kakimu sakit chagi.”
“Aku tidak apa apa.”
Setelah ibu menurunkanku,handphonenya
bergetar.Segera ia mengambilnya dari dalam tas dan mengangkatnya.Sebelum itu
aku sempat melihat wallpaper ibu yang sedang bersama seorang pria tampan.Siapa
ya?
“Yoboseyo…ah,ne.Aku baik…Aku sedang bersamanya…Kau
tak percaya?...Aku di dekat halte bus,tak jauh dari sekolah Jaeyun…Annyeong~” Aku tak salah dengar.Tadi
namaku disebut ibu.Dan tadi itu,samar-samar terdengar sepertinya ibu bertelepon
dengan seorang pria.Apakah itu suami baru ibu?ANDWAE!!!!
'“Jaeyun!” Ayah berseru dari samping kananku.Sontak aku
berlari ke arahnya.Dengan segera ayah memelukku dan menggendongku seraya memutarnya.Ah,aku
malu.Seperti anak 5 tahun yang sudah lama tak ditemui.
“Ayah,aku bertemu dengan ibu lho!Itu dia orangnya.” Jari
kurusku menunjuk perempuan bertubuh ramping yang sejak tadi setia tersenyum
manis ke arahku dan ayah.Seperti sedang menonton film yang ceritanya ‘happily ever after’ saja.Ayah berjalan
ke arah ibu masih dengan aku di dalam gendongannya.Sesampai di hadapan ibu,ayah
menurunkanku dan kemudian memeluk ibu erat-erat seolah mengisyaratkan ‘jangan
pergi lagi’.
“Aku merindukanmu.Sangat-sangat merindukanmu.Apapun yang
akan terjadi nanti,tolong jangan pergi lagi.”
“Aku juga sangat-sangat merindukanmu.Selama ini kita hanya
dapat bertelepon atau berkirim pesan.Sudah lama aku tidak menatapmu secara
langsung.I love you…and I’m still loving
you.Aku janji takkan pergi lagi apapun yang terjadi.”
Setelah
mereka mengucapkan sederetan kata-kata romantis yang diam-diam sering ku tonton
di acara televisi itu,aku menutup mataku.Ahh…konsumsi dewasa.Ayah mengajariku
untuk berkembang sesuai umur.Eh,tunggu….kata ibu tadi mereka hanya bisa sering bertelepon
dan berkirim pesan?berarti…. (menoleh ke kanan kiri memastikan tak ada yang
datang ke arah mereka) orang yang bertelepon dengan ibu tadi adalah ayah?Astaga…bagaimana
aku bisa lupa dengan suara ayah.Padahal aku juga sering bertelepon
dengannya.Dan berarti pria di wallpaper hp
ibu tadi juga ayah?Tampan dan kelihatan sangat muda sekali?
Sudahlah,apapun
itu yang terpenting adalah ada ikatan yang jauh lebih kuat dari apapun.Yang
bisa menyatu meski dunia mencoba memotongnya.Yaitu,ikatan cinta dalam keluarga.
EPILOG
Aku kembali terharu setelah
mendengarkan cerita ibu dan ayah yang sambung menyambung menjadikan suatu
keselarasan kata kata yang akan membuat siapapun menangis jika mendengar
jeritan yang terkandung di dalamnya.Tak kedengaran dengan jelas memang.Ibu
memang tak pernah sekalipun pergi,sebelum hari ini,sebelum saat ini ibu hanya
tak ada di sini.Tak ada di sampingku,bukan pergi dariku.
Ibu hanya menjauh dari kehidupan
ayah karena sebenarnya nenek tak menyukai ibu.Ayah dijodohkan tapi ayah
menolaknya.Dan jika mereka nekat berhubungan,maka aku akan diambil dan diasuh nenek
yang terkenal hanya mementingkan bisnis.Itu juga alasan mengapa aku dan ayah
tinggal di apartemen berdua saja selama tak ada ibu.
“Akhirnya aku bisa mendapat posisi baik dan mungkin akan
menjadi juaranya dengan kisahku dan ibu di sekolah nanti.”
“Mwo?” Ayah dan ibu
bingung.Segera aku mengambil kertas yang sudah hampir tak berbentuk karena ku
remas-remas,dari dalam saku rok-ku.
“Best of the Best
Partner Story Challenge With Mom?” Baca ayah dan ibu secara bersamaan.
-There is no love without any story…