Still flashback
Rena keluar dari kamar mandi dalam keadaan fresh.Seusai
mengeringkan rambutnya,ia berkaca dan menyisir rambut panjangnya.Sekali sisiran
dan segenggam kerontokan rambut lurusnya didapati Rena.Ia memungut rambut itu
dan memasukkannya dalam keranjang sampah.
“Keep calm,Rena.Neon gwaenchana.” Begitulah kata Rena tiap
menenangkan dirinya.Meski bukan orang Korea,ia cukup mengerti bahasa Negara
tersebut.Bahkan banyak bahasa dari Negara lain yang cukup dikuasainya.Tak mau
ambil resiko,Rena menghentikan acara menyisirnya dan menemui orang tuanya di
ruang tamu.
Dengan langkah takut takut ia duduk diantara kedua orang
tuanya yang saling terdiam.Ia tak mau membuka suara,takutnya akan
memperkeruh.Tapi,apa boleh buat.Keyakinannya terus mendesak untuk mengutarakan
apa yang ia ingin katakan.
“Ayah…Ibu…Aku ingin berbicara.”
“Hmm…” hanya sahutan kecil dari ayahnya.
“Aku…Aku… Aku sakit.”
“Ya,aku tahu.Atsma dan tifusmu itu menyerang lagi?Tak
bisakah kau menjaga diri dan tak menyusahkanku!” Teriak ayah seolah tak terima.
“Tidak ayah.Tidak,bukan itu.Ini lebih kompleks.”
“Apa?” kali ini ibu yang menyahut.
“Akhir akhir ini aku mendapat berbagai gejala.Dan saat ku
lihat di internet,ternyata ada beberapa penyakit lain yang ku
derita,kemungkinan.” ‘Benarkah?Ayo kita ke dokter.’ Setidaknya jawaban itu yang
diharapnya sehingga ia bisa makin tenang.
“Mungkin itu hanya karna kau kecapekan dengan kegiatan
bodohmu.Juga mungkin penyakit kotormu yang akan kambuh.Aku pergi!” Setelah
mengatakan umpatan kecil sang ayah pergi keluar rumah.Rena memandang ibunya
yang juga menatapnya iba namun ibunya juga malah memilih masuk kamar.
“Hahh…sudah ku duga juga hasilnya begini.”
Beberapa hari kemudian Rena pergi ke dokter dengan uang
tabungannya.Setelah menjalani beberapa pemeriksaan,di sinilah Rena sekarang.Di
luar pintu rumah sakit.Pikirannya menerawang kea rah di mana dokter mendiagnosisnya
tadi.Menurut dokter,Rena menderita lebih dari 5 penyakit.Seperti anemia dan
lainnya yang tak bisa disebutnya kembali karena dokter tadi mengucapkan dalam
bahasa medis.Dan,kerontokan rambutnya itu karena stress.Bukan stress biasa,tapi
stress karena reaksi tersendiri otaknya yang sudah kewalahan mengontrol tubuh
Rena.
“Apa aku separah itu?” Mata Rena makin tak focus ketika
mengingat ia juga memiliki gangguan mata bernama Amblyopia dan memiliki 2 jenis
phobia akut.Arghhhh rasanya Rena ingin pergi saja ke Laut Jepang dan
menenggelamkan diri di sana.Tapi,sepertinya ia juga masih sayang nyawa.Indra
pendengarannya menangkap raungan seorang laki laki yang mengejar dokter di
koridor.
“Dokter…tolong selamatkan dia…”
“Maaf,Tuan.Tunangan anda tak bisa bertahan lagi.”
“Dokter!Aku tahu kau bukan sembarangan orang jadi aku yakin
kau bisa menyembuhkannya.”
“Maaf,sekali lagi Tuan.Dokter juga manusia biasa.Tunangan
anda sudah terkena komplikasi dengan banyaknya penyakit yang ia derita.Lebih
baik anda menerima segala keputusan Tuhan.” Dan dokter itu pergi setelah
menepuk bahu lelaki tadi.
“****!****!What the big **** are you!” Umpatan
dan erangan orang tadi membuat Rena tersadar lebih dalam.Bukan karena umpatan
mengerikan yang ia dengar tadi,tapi percakapan mereka sebelumnya.Hei,Rena tidak
bodoh untuk mengerti suatu hal dengan mudah.Camkan bahwa Rena murid tercerdas
di kelas dan peringkat ke 4 parallel di sekolahnya.Komplikasi?Banyak
penyakit?Bukankah itu yang ia dengar tadi?Oh…ayolah.Rena hanya lupa dengan kemungkinan
yang satu itu.
Dan hingga saat ini….kehidupan Rena berbalik 180 derajat
lebih parah.Hanya pengobatan sederhana yang dilakukannya sendiri,hanya berbekal
keyakinan dan semangatnya sendiri meski terkadang harus goyah karena
keluarganya,juga hal lain yang membuat Rena hanya tersenyum jika seseorang
bertanya apa yang ia sembunyikan dari mereka.
Flashback end
Rena mengerjapkan matanya ketika merasakan ketidak nyamanan
dalam posisi tidurnya.Ia merasa menggigil.Dengan cepat ia bangkit dan
merutuk.Oh,ya ampun…Rena ketiduran di lantai kamar tanpa alas apapun.Siapa yang
tahan dengan keadaan seperti ini apalagi jika kau menderita masalah
pernafasan.Segera Rena membuka tasnya cukup kasar dan menemukan obat
semprot.You know lah fungsinya apa.Setelah tenang,ia bergegas mandi dan menuju
sekolah.
1 bulan kemudian…
Dalam rangka memperingati hari berdirinya yayasan yang
menaungi sekolahnya dan diadakan di kampus yang juga satu “agensi” itu Rena
menanti giliran cukup gugup.Ini penampilan perdananya di depan orang orang se
yayasan.Biasanya ia hanya mengikuti konser kafe,konser sekolah,beberapa
festival yang biasanya melibatkan banyak penyanyi.Tapi sekarang?Ia sendiri yang
akan tampil di panggung dengan piano yang menjadi sobatnya.
“Kita sambut penampilan dari murid SMU kita,Rena Stephanny.”
Ah yay,itu dia namanya di panggil.Dengan sekali tarikan
nafas ia menuju panggung dengan percaya diri.Ia membungkuk memberi hormat pada
penonton.Dengan sopan ia menyampaikan,
“Semua yang hadir…Saya akan membawakan lagu berbahasa Korea.Berjudul
Dear My Family yang dipopulerkan SM Town.Kita warga Jepang mungkin pernah
mendengar,namun jika anda sekalian belum mengerti arti liriknya,saya harap
resapilah saja musiknya.Meski tak bagus,ku harap ini menghibur.”
Ia menyamankan diri duduk di kursi pianonya.Perlahan ia
membuka dengan alunan tuts indah.Lalu dimulai dari teriakan awal lagu
tadi “Oh~
woah~ yeah~ hii~ Oh babe~ oh oh~ hmmm...”.Dan
pertunjukan lagu sebenarnya..di mulai.
Naega seol goseul chajeul suga eopseul ttae
Pokpung sogeseo gireul ireo beoryeosseul ttae
Eonjena byeonhaji aneun saranggwa yonggireul
jushyeotteon
Geudeurege gamsareun bonaeyo
Hii~ oh yeah~
Ttaeron honjarago neukkyeosseul ttaega isseotjyo
Hii~ oh yeah~
Ttaeron honjarago neukkyeosseul ttaega isseotjyo
Mani ureotteon jinannare ne moseube
Eolmana maeumi apasseulkkayo
Himdeureosseulkkayo Ijeseoya nan al geotman
gatayo
Nae insaengi kkeunnal ttaekkajiIsesangi kkeunnal ttaekkaji urin
Nae insaengi kkeunnal ttaekkajiIsesangi kkeunnal ttaekkaji urin
Yeongwonhi hamkke isseul geoyeyo (Oh~)
Jageun maeum moa keun him dwedeut
Jageun maeum moa keun him dwedeut
Uri hanaran geoseul mitgo isseoyo (Oh~)Uri
hamkke haengbok mandeureoyo
Memareun sesang soge bichi dweneun nalkkaji
Saranghaeyo
Hii~ oh oh yeah~
nawa gateun kkumeul kkugo innayo
nawa gateun kkumeul kkugo innayo
Jeongmal nawa gateun goseul barabogo innayo
Geugeotmani sesange meongdeun apeumeul
chiryohal su isseoyo
Seoro akkyeo jul suman ittamyeon
Nae insaengi kkeunnal ttaekkajiIsesangi kkeunnal ttaekkaji urin
Nae insaengi kkeunnal ttaekkajiIsesangi kkeunnal ttaekkaji urin
Yeongwonhi hamkke isseul geoyeyo (Oh~)
Jageun maeum moa keun him dwedeutUri hanaran geoseul mitgo isseoyo (Oh oh oh oh~)
Jageun maeum moa keun him dwedeutUri hanaran geoseul mitgo isseoyo (Oh oh oh oh~)
Uri hamkke haengbok mandeureoyo
Memareun sesang soge bichi dweneun nalkkaji
Saranghaeyo
Woah uri apeseo jeolmanghaebeorin saramdeuri ittamyeon
Woah uri apeseo jeolmanghaebeorin saramdeuri ittamyeon
Dashi ireonal keun himi dwaejwoya hae
Nawa gateun gajoge songirin piryohan tenikka
oh~
Jageun maeum moa keun him dwaedeut
Jageun maeum moa keun him dwaedeut
Uri hanaran geoseul mitgo isseoyo (Oh yeah~)
Uri hamkke haengbok mandeureoyo (Oh~)
Memareun sesang soge bichi dwaeneun nalkkaji
Memareun sesang soge bichi dwaeneun nalkkaji
Saranghaeyo
Sorak sorai tepuk tangan bergemuruh di panggung penonton.Tak
berniat melebih lebihkan,beberapa orang berdiri untuk bertepuk tangan.Salut
akan kemampuannya.
‘Tuhan…rasanya ini semua begitu hangat.Akankah aku mengecawakan
mereka dengan waktuku?Andai mereka tau tentangku.Apa mereka tetap akan bertepuk
tangan?’ Gumamnya dalam hati.
Tanpa Rena sadari,sepasang tatapan mata tertumbuk padanya.Semula
orang itu tersenyum dan tampak mengingat sesuatu
“Yamato-san,sebagai tunanganmu…Aku ingin menyanyi untukmu.Tapi,nanti jika aku sudah turun dari ranjang rumah sakit ini.”
“Yamato-san,sebagai tunanganmu…Aku ingin menyanyi untukmu.Tapi,nanti jika aku sudah turun dari ranjang rumah sakit ini.”
Dahinya kini berkerut dan dengan sekali hentak ia melesat berlari keluar gedung
itu.
“Arigato gozaimasu..” Rena memberi penghormatan sebelum turun dari
panggung.Ia tak menyangka dapat respon baik.Yeah,lumayan.Ia amatiran dan
langsung di sambut seperti ini bukankah ini awal yang baik?Ahh….tapi mungkin
justru ini akhir yang baik?Mengingat itu Rena tertunduk lesu.Mata bulatnya
membesar kala mendapati seseorang yang
sepertinya akan tenggelam di kolam.Tapi tunggu,orang itu,Yamato.Laki laki yang
waktu itu mencoba bunuh diri dengan bolpoinnya.Dan sekarang?Rena melemparkan
pelampung ke kolam.
“Cepat ambil itu!” Suruh Rena.Merasa tak ada jawaban ia segera
manyahut lagi
“Jika kau ingin mati dengan cara konyol,kenapa kau tidak lari saja
sekalian menyebrangi Laut China Selatan?Daripada kau menenggelamkan diri di
kolam dangkal yang jelas jelas hanya membuatmu sakit.Tidak lebih!” Teriak Rena
emosi.Perlahan,emosi pria tadi meredup dan segera mengambil pelampung tadi dan
meminggirkan diri.
Di taman belakang kampus sedang sepi.Ya,mereka tak berbincang
selepas Rena memberikan seragam olahraganya dan juga jas sekolahnya pada lelaki
tadi.Mereka tampak menyesap kopi panas yang sudah pasti kini beralih hanya
menjadi hangat.
“Jadi,kenapa kau menolongku?” Tanya Yamato hati hati.
“Heuh…bodoh.” Rena hanya mendengus.
“Kenapa kau selalu mengataiku bodoh?”
Rena membalikkan posisi menghadap Yamato.
“Karena kau memang bodoh.Untuk apa bunuh diri?”
“Kau tak tau bagaimana hidupku.Jangan ikut campur.” Ucap Yamato
santai sambil kembali menyesap minumannya.
“Di tengah banyaknya orang yang mengharapkan kehidupan?” Entah
kenapa perkataan Rena tadi membuat Yamato serasa tertohok perlahan.Ia menoleh
menatap Rena tepat di matanya.Dan ia dapati pancaran penyesalan dan kekecewaan
di sana.Ada apa?
“Kau tahu…Kehidupan itu langka dicari.Dan kau malah
membuangnya?Si*l*n.” Ucap Rena dengan mulut setengah terkatup,rahangnya
mengeras.
“M-m-memangnya kenapa?Ini hidupku.Kau tak berhak-..”
“Selama ini aku selalu berharap dan berserah agar Tuhan saja yang
menjemputku dan kemudian Dia menyambutku.Tak pernah terpikir olehku hal konyol
sepertimu yang ingin menjemput Tuhan padahal yang kau dapat adalah hampa.Tuhan
takkan menyambutmu sampai kapanpun.”
“Aku…Aku kehilangan nafasku.Seseorang yang pergi meninggalkanku
tanpa jejak dan membuatku takkan pernah bisa mengejar bahkan menggapainya
lagi.Tuhan membalikkan kehidupanku” terang Yamato
“Kau beruntung.Tuhan membalikkan kehidupanmu secara tak
langsung.Bagaimana jika Tuhan yang membuatmu kehilangan segalanya
menggantikannya?Bukankah itu terdengar lebih kejam?”
“Tapi Dia membunuhku perlahan..”
“Setiap orang akan pergi dari dunia ini.Yang namanya hidup itu
adalah terbunuh secara perlahan.Karena jika sekali kau langsung pergi,maka kau
takkan pernah mengenal waktu.Pergunakan waktumu sebelum kau menyesalinya.Orang
lain,jauh lebih tak beruntung darimu.Kami hanya memiliki waktu singkat.”
Dalam sekejap,kesadaran Rena menipis.Dan……Dia pingsan..
-life is not just about time....