Sabtu, 31 Agustus 2013

Life and Time [End]

Still flashback


Rena keluar dari kamar mandi dalam keadaan fresh.Seusai mengeringkan rambutnya,ia berkaca dan menyisir rambut panjangnya.Sekali sisiran dan segenggam kerontokan rambut lurusnya didapati Rena.Ia memungut rambut itu dan memasukkannya dalam keranjang sampah.

“Keep calm,Rena.Neon gwaenchana.” Begitulah kata Rena tiap menenangkan dirinya.Meski bukan orang Korea,ia cukup mengerti bahasa Negara tersebut.Bahkan banyak bahasa dari Negara lain yang cukup dikuasainya.Tak mau ambil resiko,Rena menghentikan acara menyisirnya dan menemui orang tuanya di ruang tamu.

Dengan langkah takut takut ia duduk diantara kedua orang tuanya yang saling terdiam.Ia tak mau membuka suara,takutnya akan memperkeruh.Tapi,apa boleh buat.Keyakinannya terus mendesak untuk mengutarakan apa yang ia ingin katakan.

“Ayah…Ibu…Aku ingin berbicara.”

“Hmm…” hanya sahutan kecil dari ayahnya.

“Aku…Aku… Aku sakit.”

“Ya,aku tahu.Atsma dan tifusmu itu menyerang lagi?Tak bisakah kau menjaga diri dan tak menyusahkanku!” Teriak ayah seolah tak terima.

“Tidak ayah.Tidak,bukan itu.Ini lebih kompleks.”

“Apa?” kali ini ibu yang menyahut.

“Akhir akhir ini aku mendapat berbagai gejala.Dan saat ku lihat di internet,ternyata ada beberapa penyakit lain yang ku derita,kemungkinan.” ‘Benarkah?Ayo kita ke dokter.’ Setidaknya jawaban itu yang diharapnya sehingga ia bisa makin tenang.

“Mungkin itu hanya karna kau kecapekan dengan kegiatan bodohmu.Juga mungkin penyakit kotormu yang akan kambuh.Aku pergi!” Setelah mengatakan umpatan kecil sang ayah pergi keluar rumah.Rena memandang ibunya yang juga menatapnya iba namun ibunya juga malah memilih masuk kamar.

“Hahh…sudah ku duga juga hasilnya begini.”

Beberapa hari kemudian Rena pergi ke dokter dengan uang tabungannya.Setelah menjalani beberapa pemeriksaan,di sinilah Rena sekarang.Di luar pintu rumah sakit.Pikirannya menerawang kea rah di mana dokter mendiagnosisnya tadi.Menurut dokter,Rena menderita lebih dari 5 penyakit.Seperti anemia dan lainnya yang tak bisa disebutnya kembali karena dokter tadi mengucapkan dalam bahasa medis.Dan,kerontokan rambutnya itu karena stress.Bukan stress biasa,tapi stress karena reaksi tersendiri otaknya yang sudah kewalahan mengontrol tubuh Rena.

“Apa aku separah itu?” Mata Rena makin tak focus ketika mengingat ia juga memiliki gangguan mata bernama Amblyopia dan memiliki 2 jenis phobia akut.Arghhhh rasanya Rena ingin pergi saja ke Laut Jepang dan menenggelamkan diri di sana.Tapi,sepertinya ia juga masih sayang nyawa.Indra pendengarannya menangkap raungan seorang laki laki yang mengejar dokter di koridor.

“Dokter…tolong selamatkan dia…”

“Maaf,Tuan.Tunangan anda tak bisa bertahan lagi.”

“Dokter!Aku tahu kau bukan sembarangan orang jadi aku yakin kau bisa menyembuhkannya.”

“Maaf,sekali lagi Tuan.Dokter juga manusia biasa.Tunangan anda sudah terkena komplikasi dengan banyaknya penyakit yang ia derita.Lebih baik anda menerima segala keputusan Tuhan.” Dan dokter itu pergi setelah menepuk bahu lelaki tadi.

“****!****!What the big **** are you!” Umpatan dan erangan orang tadi membuat Rena tersadar lebih dalam.Bukan karena umpatan mengerikan yang ia dengar tadi,tapi percakapan mereka sebelumnya.Hei,Rena tidak bodoh untuk mengerti suatu hal dengan mudah.Camkan bahwa Rena murid tercerdas di kelas dan peringkat ke 4 parallel di sekolahnya.Komplikasi?Banyak penyakit?Bukankah itu yang ia dengar tadi?Oh…ayolah.Rena hanya lupa dengan kemungkinan yang satu itu.

Dan hingga saat ini….kehidupan Rena berbalik 180 derajat lebih parah.Hanya pengobatan sederhana yang dilakukannya sendiri,hanya berbekal keyakinan dan semangatnya sendiri meski terkadang harus goyah karena keluarganya,juga hal lain yang membuat Rena hanya tersenyum jika seseorang bertanya apa yang ia sembunyikan dari mereka.
Flashback end

Rena mengerjapkan matanya ketika merasakan ketidak nyamanan dalam posisi tidurnya.Ia merasa menggigil.Dengan cepat ia bangkit dan merutuk.Oh,ya ampun…Rena ketiduran di lantai kamar tanpa alas apapun.Siapa yang tahan dengan keadaan seperti ini apalagi jika kau menderita masalah pernafasan.Segera Rena membuka tasnya cukup kasar dan menemukan obat semprot.You know lah fungsinya apa.Setelah tenang,ia bergegas mandi dan menuju sekolah.

1 bulan kemudian…

Dalam rangka memperingati hari berdirinya yayasan yang menaungi sekolahnya dan diadakan di kampus yang juga satu “agensi” itu Rena menanti giliran cukup gugup.Ini penampilan perdananya di depan orang orang se yayasan.Biasanya ia hanya mengikuti konser kafe,konser sekolah,beberapa festival yang biasanya melibatkan banyak penyanyi.Tapi sekarang?Ia sendiri yang akan tampil di panggung dengan piano yang menjadi sobatnya.

“Kita sambut penampilan dari murid SMU kita,Rena Stephanny.”

Ah yay,itu dia namanya di panggil.Dengan sekali tarikan nafas ia menuju panggung dengan percaya diri.Ia membungkuk memberi hormat pada penonton.Dengan sopan ia menyampaikan,

“Semua yang hadir…Saya akan membawakan lagu berbahasa Korea.Berjudul Dear My Family yang dipopulerkan SM Town.Kita warga Jepang mungkin pernah mendengar,namun jika anda sekalian belum mengerti arti liriknya,saya harap resapilah saja musiknya.Meski tak bagus,ku harap ini menghibur.”
Ia menyamankan diri duduk di kursi pianonya.Perlahan ia membuka dengan alunan tuts indah.Lalu dimulai dari teriakan awal lagu tadi “Oh~ woah~ yeah~ hii~ Oh babe~ oh oh~ hmmm....Dan pertunjukan lagu sebenarnya..di mulai.

Naega seol goseul chajeul suga eopseul ttae
Pokpung sogeseo gireul ireo beoryeosseul ttae
Eonjena byeonhaji aneun saranggwa yonggireul jushyeotteon
Geudeurege gamsareun bonaeyo
Hii~ oh yeah~
Ttaeron honjarago neukkyeosseul ttaega isseotjyo
Mani ureotteon jinannare ne moseube
Eolmana maeumi apasseulkkayo
Himdeureosseulkkayo Ijeseoya nan al geotman gatayo
Nae insaengi kkeunnal ttaekkajiIsesangi kkeunnal ttaekkaji urin
Yeongwonhi hamkke isseul geoyeyo (Oh~)
Jageun maeum moa keun him dwedeut
Uri hanaran geoseul mitgo isseoyo (Oh~)Uri hamkke haengbok mandeureoyo
Memareun sesang soge bichi dweneun nalkkaji
Saranghaeyo
Hii~ oh oh yeah~
nawa gateun kkumeul kkugo innayo
Jeongmal nawa gateun goseul barabogo innayo
Geugeotmani sesange meongdeun apeumeul chiryohal su isseoyo
Seoro akkyeo jul suman ittamyeon
Nae insaengi kkeunnal ttaekkajiIsesangi kkeunnal ttaekkaji urin
Yeongwonhi hamkke isseul geoyeyo (Oh~)
Jageun maeum moa keun him dwedeutUri hanaran geoseul mitgo isseoyo (Oh oh oh oh~)
Uri hamkke haengbok mandeureoyo
Memareun sesang soge bichi dweneun nalkkaji
Saranghaeyo
Woah uri apeseo jeolmanghaebeorin saramdeuri ittamyeon
Dashi ireonal keun himi dwaejwoya hae
Nawa gateun gajoge songirin piryohan tenikka oh~
Jageun maeum moa keun him dwaedeut
Uri hanaran geoseul mitgo isseoyo (Oh yeah~)
Uri hamkke haengbok mandeureoyo (Oh~)
Memareun sesang soge bichi dwaeneun nalkkaji
Saranghaeyo

Sorak sorai tepuk tangan bergemuruh di panggung penonton.Tak berniat melebih lebihkan,beberapa orang berdiri untuk bertepuk tangan.Salut akan kemampuannya.

‘Tuhan…rasanya ini semua begitu hangat.Akankah aku mengecawakan mereka dengan waktuku?Andai mereka tau tentangku.Apa mereka tetap akan bertepuk tangan?’ Gumamnya dalam hati.

Tanpa Rena sadari,sepasang tatapan mata tertumbuk padanya.Semula orang itu tersenyum dan tampak mengingat sesuatu
“Yamato-san,sebagai tunanganmu…Aku ingin menyanyi untukmu.Tapi,nanti jika aku sudah turun dari ranjang rumah sakit ini.”
Dahinya kini berkerut dan dengan sekali hentak ia melesat berlari keluar gedung itu.

“Arigato gozaimasu..” Rena memberi penghormatan sebelum turun dari panggung.Ia tak menyangka dapat respon baik.Yeah,lumayan.Ia amatiran dan langsung di sambut seperti ini bukankah ini awal yang baik?Ahh….tapi mungkin justru ini akhir yang baik?Mengingat itu Rena tertunduk lesu.Mata bulatnya membesar kala mendapati  seseorang yang sepertinya akan tenggelam di kolam.Tapi tunggu,orang itu,Yamato.Laki laki yang waktu itu mencoba bunuh diri dengan bolpoinnya.Dan sekarang?Rena melemparkan pelampung ke kolam.

“Cepat ambil itu!” Suruh Rena.Merasa tak ada jawaban ia segera manyahut lagi

“Jika kau ingin mati dengan cara konyol,kenapa kau tidak lari saja sekalian menyebrangi Laut China Selatan?Daripada kau menenggelamkan diri di kolam dangkal yang jelas jelas hanya membuatmu sakit.Tidak lebih!” Teriak Rena emosi.Perlahan,emosi pria tadi meredup dan segera mengambil pelampung tadi dan meminggirkan diri.

Di taman belakang kampus sedang sepi.Ya,mereka tak berbincang selepas Rena memberikan seragam olahraganya dan juga jas sekolahnya pada lelaki tadi.Mereka tampak menyesap kopi panas yang sudah pasti kini beralih hanya menjadi hangat.

“Jadi,kenapa kau menolongku?” Tanya Yamato hati hati.

“Heuh…bodoh.” Rena hanya mendengus.

“Kenapa kau selalu mengataiku bodoh?”
Rena membalikkan posisi menghadap Yamato.

“Karena kau memang bodoh.Untuk apa bunuh diri?”

“Kau tak tau bagaimana hidupku.Jangan ikut campur.” Ucap Yamato santai sambil kembali menyesap minumannya.

“Di tengah banyaknya orang yang mengharapkan kehidupan?” Entah kenapa perkataan Rena tadi membuat Yamato serasa tertohok perlahan.Ia menoleh menatap Rena tepat di matanya.Dan ia dapati pancaran penyesalan dan kekecewaan di sana.Ada apa?

“Kau tahu…Kehidupan itu langka dicari.Dan kau malah membuangnya?Si*l*n.” Ucap Rena dengan mulut setengah terkatup,rahangnya mengeras.
“M-m-memangnya kenapa?Ini hidupku.Kau tak berhak-..”

“Selama ini aku selalu berharap dan berserah agar Tuhan saja yang menjemputku dan kemudian Dia menyambutku.Tak pernah terpikir olehku hal konyol sepertimu yang ingin menjemput Tuhan padahal yang kau dapat adalah hampa.Tuhan takkan menyambutmu sampai kapanpun.”

“Aku…Aku kehilangan nafasku.Seseorang yang pergi meninggalkanku tanpa jejak dan membuatku takkan pernah bisa mengejar bahkan menggapainya lagi.Tuhan membalikkan kehidupanku” terang Yamato

“Kau beruntung.Tuhan membalikkan kehidupanmu secara tak langsung.Bagaimana jika Tuhan yang membuatmu kehilangan segalanya menggantikannya?Bukankah itu terdengar lebih kejam?”

“Tapi Dia membunuhku perlahan..”

“Setiap orang akan pergi dari dunia ini.Yang namanya hidup itu adalah terbunuh secara perlahan.Karena jika sekali kau langsung pergi,maka kau takkan pernah mengenal waktu.Pergunakan waktumu sebelum kau menyesalinya.Orang lain,jauh lebih tak beruntung darimu.Kami hanya memiliki waktu singkat.” Dalam sekejap,kesadaran Rena menipis.Dan……Dia pingsan..




-life is not just about time....