Sabtu, 17 Agustus 2013

Life And Time [Part 1]

Aku tidak tahu kapan waktu mulai Tuhan buat.Aku tidak tahu kapan waktu mulai Tuhan jalankan sehingga menimbulkan jejak jejak kehidupan.Aku juga tidak tahu bagaimana Tuhan dengan segala caraNya membuat waktu menjadi hal paling berharga di dunia.Tapi,aku menyesal  menyiakannya.Menyesal tak bisa menikmatinya.Menyesal tak pernah sekalipun merasa cukup atasnya…’


Gerak gerik jari mulus gadis cantik itu terhenti.Tangannya bergetar tak terlalu terlihat.Tampaknya ia menyamarkan getaran itu dengan menggenggam erat bolpoin hitam,teman setianya.Tak terasa kertas yang telah dibubuhi tulisan itu terkena tetes air dari atas.Ini bukan hujan,jadi dapat dipastikan bahwa itu adalah air matanya.Beberapa huruf luntur olehnya.

“Huffttss….padahal aku sudah menulisnya dengan perasaan.Kenapa malah begini sih? Haha..” gadis itu terkekeh pelan menyikapinya.Segera ia usap  air matanya secara kasar dengan punggung tangannya.

“Rena-chan!Aishh…ku cari ke mana saja tidak tahunya kau malah di sini.” Panggil seorang gadis lain yang kita ketahui namanya Aiko.

“Ahh..Ai!Maaf,aku tadi sedang cari udara segar.” Terang Rena

“Hei…kau kenapa?Wajahmu pucat begitu?”

“Aku?Mungkin bedakku tadi pagi terlalu tebal.”

“Aneh.Wajahmu saja tidak terlihat memakai bedak,Ren.”

“Yeah,,mungkin bibirku kering kena angin.Jadi,kenapa harus dipermasalahkan?Ada apa mencariku?”

“Hmm…benar juga.Ah,tidak…Guru George memanggilmu.”
Tanpa banyak tanya dan basa basi,akhirnya Rena beranjak diikuti Aiko.


“Selamat pagi,Guru George.Mencari saya?”
“Oh,Rena!Duduklah.”
Rena memasuki ruangan Guru Fisika tersebut dengan langkah pincang.Namun,ia mempercepat langkahnya agar sang guru tak menaruh curiga dan mengambil duduk di depan meja guru tersebut.

“Kakimu kenapa,Ren?”

“Tidak.Hanya sedikit keseleo.Ada apa memanggil saya?”

“Lain kali,hati hatilah saat berjalan.Kau seringkali begitu.”

“Baik”

“Begini.Acara di kampus yayasan kita bulan depan adalah unjuk kebolehan.Ini bidang bidang yang bisa kau pilih.” Guru George menyerahkan selembar kertas dan melanjutkan kata katanya, “Ku harap kau…”

“Aku pilih menyanyi.”

“Hah..Sudah ku duga.Padahal aku akan menyediakanmu tempat praktikum.Dan bahkan aku sudah mempersiapkan segala penunjangnya.Tapi…Terserah kau sajalah.Asal itu sesuai pilihanmu.”

“Terimakasih,guru.Bisa saya permisi sekarang?”

Setelah mendapat jawaban ya yang sarat akan kekecewaan dari guru fisikanya,ia beranjak pergi.Sesungguhnya bukan tanpa alasan ia dengan tidak sopannya segera meminta undur diri.Dengan langkah yang masih terseok,ia menaiki lift menuju lantai dua sekolahnya dan berlari kesusahan ke kamar mandi.Dan mengeluarkan semacam obat semprot dari saku kemejanya.

Jam pelajaran terakhir telah habis 3 menit yang lalu.Kelas mulai sepi.Rena membereskan tumpukan buku di mejanya dan ingin beranjak pergi ke ruang klub vocal.Seketika matanya membulat tak percaya ketika mendapati seseorang yang hanya berjarak beberapa bangku darinya.Seorang laki laki dengan kemeja putihnya yang berantakan dan memegang sebatang bolpoin dengan erat.Sangat erat hingga urat tangannya yang sudah menonjol makin menonjol.Tak menunggu lebih lama Rena segera berlari ke arahnya dan menepis tangan kanan lelaki tadi dengan sangat kasar.

“YA!APA YANG KAU LAKUKAN?” bentak lelaki tadi.

“Bodoh!” Rena mendengus pada laki laki itu lalu memungut bolpoin tadi dan meninggalkan kelas dengan langkah cepat.


Rena berjalan perlahan ke halte bus terdekat dari sekolahnya.Jam di klub memang tak selama itu mengingat dari jam 4 sore sampai sekarang jam 8 malam ia baru pulang.Ia biasa menuangkan segala perasaannya pada lagu.Gadis seperti Rena tak bisa dianggap remeh dengan kekurangannya.Ia pintar di berbagai bidang akademik,bersosialisasi,bernyanyi,bermain music,bahkan olahraga.Tak ada yang mengetahui kekurangannya tersebut.Tak terkecuali orang terdekatnya.Bus ke rumahnya datang mengantar Rena ke peraduannya.

“Selamat malam.Aku pulang…” Teriak Rena ramah.            

“Hai,Rena.Segera bereskan dirimu dan makan malam sudah tersedia di meja makan.Aku keluar.” 
Singkat.Bagi Rena perkataan panjang lebar dan dingin kakak yang 9 tahun lebih tua darinya tadi terasa singkat dan menusuk.Tubuh Rena merosot ke lantai.

“Andai kau tahu apa yang terjadi padaku.Apa kau masih dengan tenang bersikap seperti itu dihadapanku?” 

Rena menutup kedua telinganya rapat dengan kedua telapak tangannya yang bergetar.Seperti tak ingin mendengarkan apapun.Tapi bukan itu yang Rena maksudkan.


Seusai belajar ,malam semakin larut.Namun Rena urung untuk beranjak tidur.Didengarnya pintu rumah yang terbuka.Rena beranjak untuk membuka pintu kamarnya tapi ia hentikan niatnya dan berdiam diri dibalik pintunya setelah mendengar bentakan sahut menyahut dari kedua orang tuanya di luar.

“Apa yang pernah ku lakukan hingga kau begitu padaku?HAH!” Teriak ibunya

“Tutup mulutmu atau kupukul kau dengan vas bunga ini!” Tak lama setelah ayahnya berteriak terdengar barang yang pecah.Mungkin vas tadi.Tanpa sadar Rena berjongkok dan menutup kedua telinganya.Persis seperti yang dilakukannya beberapa waktu lalu saat kakaknya keluar.

“Andai kalian tahu tentangku.Masihkah kalian begini?Atau mungkin kalian akan tetap tak percaya dengan apa yang aku alami?” Gumam Rena lemah dan ingatannya berkeliling di masa lalu.

Flashback
Pulang dari sekolah Rena bergegas ke kamarnya tanpa memperdulikan teriakan kakaknya yang menyuruhnya melepas sepatu dulu.Tentu karena memakai sepatu di dalam rumah merupakan hal yang tidak sopan bagi orang Jepang.Rena membuka laptop ungunya kasar.Dengan sekali hentakan ia pasangkan modem dan berselancar di dunia maya.Bukan buka facebook,twitter,weibo,plurk,friendster,skype atau apalah itu semacamnya.Beberapa saat kemudian wajahnya tertunduk dan ia tenggelamkan dalam bantal.

“Sudah ku duga akan begini..Hahhh…..” Helaan nafasnya yang panjang tak dapat mengurangi semuanya.



To Be Continue



Cerita ini bersumber dari kehidupan nyata yang diubah sedikit alurnya.Orang seperti kami yang bertahan,itu langka.
Part kedua jauh lebih controversial kata katanya.