‘Aku tidak tahu kapan
waktu mulai Tuhan buat.Aku tidak tahu kapan waktu mulai Tuhan jalankan sehingga
menimbulkan jejak jejak kehidupan.Aku juga tidak tahu bagaimana Tuhan dengan
segala caraNya membuat waktu menjadi hal paling berharga di dunia.Tapi,aku
menyesal menyiakannya.Menyesal tak bisa
menikmatinya.Menyesal tak pernah sekalipun merasa cukup atasnya…’
Gerak gerik jari mulus gadis cantik itu terhenti.Tangannya
bergetar tak terlalu terlihat.Tampaknya ia menyamarkan getaran itu dengan
menggenggam erat bolpoin hitam,teman setianya.Tak terasa kertas yang telah
dibubuhi tulisan itu terkena tetes air dari atas.Ini bukan hujan,jadi dapat
dipastikan bahwa itu adalah air matanya.Beberapa huruf luntur olehnya.
“Huffttss….padahal aku sudah menulisnya dengan
perasaan.Kenapa malah begini sih? Haha..” gadis itu terkekeh pelan
menyikapinya.Segera ia usap air matanya
secara kasar dengan punggung tangannya.
“Rena-chan!Aishh…ku cari ke mana saja tidak tahunya kau
malah di sini.” Panggil seorang gadis lain yang kita ketahui namanya Aiko.
“Ahh..Ai!Maaf,aku tadi sedang cari udara segar.” Terang Rena
“Hei…kau kenapa?Wajahmu pucat begitu?”
“Aku?Mungkin bedakku tadi pagi terlalu tebal.”
“Aneh.Wajahmu saja tidak terlihat memakai bedak,Ren.”
“Yeah,,mungkin bibirku kering kena angin.Jadi,kenapa harus
dipermasalahkan?Ada apa mencariku?”
“Hmm…benar juga.Ah,tidak…Guru George memanggilmu.”
Tanpa banyak tanya dan basa basi,akhirnya Rena beranjak
diikuti Aiko.
“Selamat pagi,Guru George.Mencari saya?”
“Oh,Rena!Duduklah.”
Rena memasuki ruangan Guru Fisika tersebut dengan langkah
pincang.Namun,ia mempercepat langkahnya agar sang guru tak menaruh curiga dan
mengambil duduk di depan meja guru tersebut.
“Kakimu kenapa,Ren?”
“Tidak.Hanya sedikit keseleo.Ada apa memanggil saya?”
“Lain kali,hati hatilah saat berjalan.Kau seringkali begitu.”
“Baik”
“Begini.Acara di kampus yayasan kita bulan depan adalah
unjuk kebolehan.Ini bidang bidang yang bisa kau pilih.” Guru George menyerahkan
selembar kertas dan melanjutkan kata katanya, “Ku harap kau…”
“Aku pilih menyanyi.”
“Hah..Sudah ku duga.Padahal aku akan menyediakanmu tempat
praktikum.Dan bahkan aku sudah mempersiapkan segala penunjangnya.Tapi…Terserah
kau sajalah.Asal itu sesuai pilihanmu.”
“Terimakasih,guru.Bisa saya permisi sekarang?”
Setelah mendapat jawaban ya yang sarat akan kekecewaan dari
guru fisikanya,ia beranjak pergi.Sesungguhnya bukan tanpa alasan ia dengan
tidak sopannya segera meminta undur diri.Dengan langkah yang masih terseok,ia
menaiki lift menuju lantai dua sekolahnya dan berlari kesusahan ke kamar mandi.Dan
mengeluarkan semacam obat semprot dari saku kemejanya.
Jam pelajaran terakhir telah habis 3 menit yang lalu.Kelas
mulai sepi.Rena membereskan tumpukan buku di mejanya dan ingin beranjak pergi
ke ruang klub vocal.Seketika matanya membulat tak percaya ketika mendapati
seseorang yang hanya berjarak beberapa bangku darinya.Seorang laki laki dengan
kemeja putihnya yang berantakan dan memegang sebatang bolpoin dengan
erat.Sangat erat hingga urat tangannya yang sudah menonjol makin menonjol.Tak
menunggu lebih lama Rena segera berlari ke arahnya dan menepis tangan kanan
lelaki tadi dengan sangat kasar.
“YA!APA YANG KAU LAKUKAN?” bentak lelaki tadi.
“Bodoh!” Rena mendengus pada laki laki itu lalu memungut
bolpoin tadi dan meninggalkan kelas dengan langkah cepat.
Rena berjalan perlahan ke halte bus terdekat dari
sekolahnya.Jam di klub memang tak selama itu mengingat dari jam 4 sore sampai
sekarang jam 8 malam ia baru pulang.Ia biasa menuangkan segala perasaannya pada
lagu.Gadis seperti Rena tak bisa dianggap remeh dengan kekurangannya.Ia pintar
di berbagai bidang akademik,bersosialisasi,bernyanyi,bermain music,bahkan
olahraga.Tak ada yang mengetahui kekurangannya tersebut.Tak terkecuali orang
terdekatnya.Bus ke rumahnya datang mengantar Rena ke peraduannya.
“Selamat malam.Aku pulang…” Teriak
Rena ramah.
“Hai,Rena.Segera bereskan dirimu
dan makan malam sudah tersedia di meja makan.Aku keluar.”
Singkat.Bagi Rena
perkataan panjang lebar dan dingin kakak yang 9 tahun lebih tua darinya tadi terasa
singkat dan menusuk.Tubuh Rena merosot ke lantai.
“Andai kau tahu apa yang terjadi
padaku.Apa kau masih dengan tenang bersikap seperti itu dihadapanku?”
Rena
menutup kedua telinganya rapat dengan kedua telapak tangannya yang
bergetar.Seperti tak ingin mendengarkan apapun.Tapi bukan itu yang Rena maksudkan.
Seusai belajar ,malam semakin
larut.Namun Rena urung untuk beranjak tidur.Didengarnya pintu rumah yang
terbuka.Rena beranjak untuk membuka pintu kamarnya tapi ia hentikan niatnya dan
berdiam diri dibalik pintunya setelah mendengar bentakan sahut menyahut dari
kedua orang tuanya di luar.
“Apa yang pernah ku lakukan
hingga kau begitu padaku?HAH!” Teriak ibunya
“Tutup mulutmu atau kupukul kau
dengan vas bunga ini!” Tak lama setelah ayahnya berteriak terdengar barang yang
pecah.Mungkin vas tadi.Tanpa sadar Rena berjongkok dan menutup kedua
telinganya.Persis seperti yang dilakukannya beberapa waktu lalu saat kakaknya
keluar.
“Andai kalian tahu
tentangku.Masihkah kalian begini?Atau mungkin kalian akan tetap tak percaya
dengan apa yang aku alami?” Gumam Rena lemah dan ingatannya berkeliling di masa
lalu.
Flashback
Pulang dari sekolah Rena bergegas
ke kamarnya tanpa memperdulikan teriakan kakaknya yang menyuruhnya melepas
sepatu dulu.Tentu karena memakai sepatu di dalam rumah merupakan hal yang tidak
sopan bagi orang Jepang.Rena membuka laptop ungunya kasar.Dengan sekali
hentakan ia pasangkan modem dan berselancar di dunia maya.Bukan buka
facebook,twitter,weibo,plurk,friendster,skype atau apalah itu semacamnya.Beberapa
saat kemudian wajahnya tertunduk dan ia tenggelamkan dalam bantal.
“Sudah ku duga akan begini..Hahhh…..”
Helaan nafasnya yang panjang tak dapat mengurangi semuanya.
To Be Continue
Cerita ini bersumber dari
kehidupan nyata yang diubah sedikit alurnya.Orang seperti kami yang
bertahan,itu langka.
Part kedua jauh lebih controversial
kata katanya.