Fukuoka,20 September 2016
Lampu remang remang menyinari manik
mata coklat Haruka.Sudah beberapa kali ia mengedarkan pandangannya ke seluruh
penjuru ruangan kamarnya.Sudah lama juga ia terduduk di sebuah sofa yang
langsung menghadap ke arah ranjangnya.Seketika kakinya tergerak untuk melangkah
mendekati meja nakas.Perlahan tangan kanannya membuka sebuah laci dan mendapati
sebuah buku di sana.
“I Write You..”
Bibir kecil Haruka menggumam.
Ia buka lembar pertama buku
itu.Di sana terdapat sebuah foto seorang laki laki yang diambil dari samping
kanan.Terlihat bahwa lelaki tersebut tengah menendang udara dengan nafasnya
terbukti kepulan asap yang muncul di depan mulutnya,kontras dengan background awal musim semi.Ia juga sedang memandang ke atas seolah telah menghabiskan
waktu untuk menunggu.Haruka membuka lembar kedua dan melihat sederet tulisan di
sana.
Menunggu kehangatan dengan nafas dinginmu…
Musim semi telah tiba.Seharusnya
kota sedang sepi karena seluruh sekolah sedang ada pada jam pelajaran.Mengingat
ini pukul 8 pagi.Tapi,berbanding terbalik dengan Incheon airport.Nampak ramai seolah manusia di sini sedang mencuri waktu
sehingga tidak peduli padanya.Seorang gadis yang mengenakan jaket merah tebal
dipadukan dengan syal putih juga jeans hitam yang tertutup setengah lutut oleh
sepatu boot berwarna abu abu.
Setelah
sampai di salah satu tempat duduk,ia melihat seorang laki laki yang beranjak
dari duduknya tak jauh dari kursi yang Haruka duduki.Kelihatan sedang menunggu
seseorang dilihat dari gelagatnya.5 menit berlalu baik ia atau laki laki tadi
tak menunjukkan pergerakan berarti semisal pergi keluar dari areal bandara.Tak
lama,Haruka lebih memilih mengeluarkan kamera digital beserta sebuah buku dan
pulpen dari tasnya.
Tanpa aba aba,ia mengambil gambar
yang menurutnya bagus dengan kamera.Tepat pada saat laki laki yang tadi berdiri
dengan ekspresi penuh bosan.Tanpa sadar senyum Haruka mengembang dan kemudian
ia menuliskan beberapa kata pada bukunya.
‘Menunggu itu memang
membosankan.Tapi,jika yang kau tunggu itu kehangatan maka kau akan merasakan
kedinginan.Jika yang kau tunggu itu sebuah pelukan,maka yang kau temui saat ini
adalah asap dingin udara awal musim semi.’
==0==
Haruka membuka lembar ketiga dan mendapati lagi sebuah foto
lelaki yang sama di sana.Kali ini dari sisi belakang.Dengan rambut hitam lurus yang
dibuat sedikit acak acakan.Sekilas mirip dengan Yunho TVXQ masa awal debut.Apalagi
dengan tubuh tegapnya.Tapi yang berbeda,lelaki itu tampak tak lebih tinggi dari
penyanyi itu.Yeah,meski lelaki tadi sedang duduk namun asumsi Haruka memang
benar adanya.Ia buka lembar berikutnya dan mendapati deretan huruf.
Bersuara adalah suatu hal yang akan menciptakan hal lain…
Kelas
baru Haruka tampak tak terlalu tenang.10 menit yang lalu adalah bel
masuk.Tapi,hingga saat ini guru yang jadwalnya mengajar tak kunjung
datang.Beberapa murid perempuan memilih bergossip.4 orang murid laki laki juga
sedang berbincang dengan 2 diantaranya duduk di atas meja.Mata Haruk kembali
terfokus pada obyek di depannya.Seseorang yang sepertinya tengah menekuni
sebuah buku.
“Kau punya correction
pen?”
Seketika mata Haruka melebar dan dirinya setengah terlonjak
kaget saat lelaki yang ia pandangi tadi tiba tiba berbalik dan bertanya
padanya.
“Eh?Ya,tentu.”
Segera ia ambilkan barang yang diminta dan memberikannya
pada laki laki tadi.
“Gomawo.Aku Kim
Joonhwa”
“Cheonmaneyo.Aku
Haruka.”
Setelah Junhwa berbalik,Haruka menuliskan sesuatu di buku.
‘Satu suara dengan 4
kata membuatku terkejut.Dua kalimat dengan suara sama membuatku tahu.’
==0==
Di lembar selanjutnya ia menemui sebuah foto Junhwa yang
melangkah meninggalkan danau di sisi kirinya.
Genggam dan semuanya akan berhenti..
Hari itu adalah hari belajar di
luar kelas bagi Haruka.Lokasi yang dipilih adalah sebuah taman dengan danau
berair jernih di tengahnya.Tampak pohon pohon yang daunnya mulai melebat.Juga
bunga bunga yang bermekaran.Danau itu tampaknya baru memulai kehidupan.Sudah
Haruka pastikan bahwa air jernihnya adalah lelehan es beberapa minggu yang
lalu.
“Anak anak,data hal yang membuat kalian tertarik di
sini.Serahkan 30 menit lagi.Jika menemui kesulitan,tanyakan saja pada saya.”
“Baik,seonsaengnim.”
Tak butuh waktu lama semua murid
yang tadinya berkumpul itu berhambur ke berbagai penjuru taman.Ada yang menuju
bawah pohon yang cukup rindang,bukit berbunga,danau,atau bahkan hanya sekedar
berjalan jalan di taman.
Haruka mengamati beberapa tangkai
bunga snowdrop.Tak ada niat untuk
mendatanya sebagai suatu hal yang membuatnya tertarik.Ia tertarik,memang.Tapi
ia tak punya alasan yang bagus untuk diutarakan.Masa iya alasannya “karena
mahkota bunganya berwarna putih mirip salju.aku suka salju.”?Alasan itu jauh
sudah ia utarakan di sekolah dasar dulu.Akan terdengar kekanakan kalau ia tulis
lagi.
Iris coklatnya mendapati sebuah
daun kecil di pinggir danau.Ia mendekati daun yang berwarna ungu dan berbentuk
hati sempurna tersebut.Dari beberapa daun lain yang megapung,hanya daun itu
yang mampu menarik perhatiannya karena itu hanya satu satunya daun dengan warna
ungu di sana.Haruka berjongkok dan berniat mengambil daun itu.Angin berhembus
membawa daun itu makin ke tengah.haruka berusaha meraih namun naas lututnya
yang dibuat bertumpu melongsorkan tanah pinggiran danau dan…
BYURR!
Ia tercebur ke dalam dinginnya
air.Tawa meledak dari beberapa teman di sekeliling tempatnya tersebut.Hmm
bukannya menolong malah menertawakan.Dengan perasaan malu ia mengusap wajahnya
dengan tangan kanan.Sebuah tangan terulur di hadapannya.Tak peduli siapa orang
itu,Haruka meraihnya dan keluar dari air.Seketika tawa orang orang tadi
berhenti.
Haruka menggigil dengan lengan
yang saling di silangkan di depan dada.Tiba tiba sebuah jas yang sama dengan
miliknya yang sudah basah kuyup menutup punggung hingga bahunya.Haruka menoleh ke
arah orang itu dan mendapati senyum ramah terukir di bibir Junhwa.Junhwa
melangkah menjauhi Haruka.Sebelum langkahnya jauh,Haruka mengambil potretnya.
Dengan keadaan yang masih cukup
basah dan jas Junhwa yang masih menyelimutinya ia menyerahkan tugas Kang seonsaengnim.Awalnya Kang seonsaengnim terus menanyainya.Setelah
menjelaskan bahwa ini hanya accident
kecil dan menerangkan ia tak apa,akhirnya Kang seonsaengnim
berhenti bertanya.Sebuah senyum manis mengembang di bibir Haruka.
‘Semula,daun indah
menarikku menatapnya.Memanggilku menuju kearahnya.Namun,angin memberiku jalan
untuk merasakan pelukan dingin air danau.Dengan genangan malu,aku akhirnya
menangkap sebuah tangan yang terulur.Seketika tawa meledak sekitarku
terhenti.Seiring dengan menguapnya dingin dari balik hangatnya jas milikmu.’
==0==
20 menit telah berlalu.Rangkaian kata kata yang Haruka buat
sendiri seolah menghipnotis dunianya.Berkutat dengan alunan kenangan dalam buku itu membuat Haruka
tersenyum sampai tertawa kecil.Namun sesekali ia tampak menitikkan tetesan air
mata.Terkadang karena haru,juga kadang karena sedih.Entah apa yang ia ingat dan
ia baca hingga menguras waktu,emosi,dan memori.
Sampailah ia pada lembaran terakhir.Didapatinya sebuah foto
langit cerah biru dengan aksen awan putih menghiasinya.Tak tampak foto Junhwa
lagi di sana.Dengan inisiatif,ia membaca tulisan dibaliknya.
Kadang langit tak memberimu keterangan…
Perasaan senang,sedih,kecewa,tak
rela,berkecamuk dalam hatinya.Langkah kakinya telah membawa tubuh gadis bernama
Haruka itu menginjak kembali areal bandara internasional Korea.Incheon Airport.Kembali ke negaranya,bukanlah
suatu hal yang menyedihkan namun juga tidak menggembirakan.Senang karena akan
bertemu keluarganya,sedih harus meninggalkan Korea,kecewa entah karena apa,dan
tak rela karena……….harus meninggalkan Junhwa.
“Hahh….beberapa menit lagi pesawatnya lepas landas.” Adu
gadis itu kepada dirinya sendiri.Ia keluarkan ponselnya dan memotret langit
cerah.Jarinya mengalun diatas sebuah buku.
‘Langit memberiku kecamuk perasaan.Ingin melintasinya yang berarti meninggalkan semuanya di
sini.Atau tak menatap bahkan menyentuhnya sama sekali yang berarti tak membayar
rindu ini.Seandainya seseorang itu di sini . . . . .
Tertanda,Kim Junhwa.’
Dengan berat hati,Haruka menuju
pesawatnya.Ia meninggalkan selembar kertas kecil di bangku tadi dengan tulisan hangul “SARANGHAEYO”.Tanpa Haruka
ketahui,seorang laki laki bertopi hitam meraih kertas tersebut dan menuju ke
pesawat yang sama dengan Haruka.
Di dalam pesawat,Haruka memandang
sekeliling bandara.Sulit jika diminta untuk melupakan semuanya di sini.Sulit
sekali.Seorang lelaki duduk di samping Haruka.Tak terlihat pergerakan Haruka
yang berbalik menatapnya.Akhirnya lelaki itu mengeluarkan suara.
“Terkadang,langit tak memberimu keterangan…”
Spontan Haruka menoleh ke arah suara yang cukup familiar
itu.
“Maksudnya?” Haruka belum tahu wajah siapa di balik topi
hitam yang makin dibuat menutupi wajahnya.
“Langit tak memberimu keterangan bahwa kemungkinan yang kau
pikirkan tadi salah atau benar.”
Junhwa membuka topinya dengan tangan kiri sedangkan tangan
kanannya menyodorkan sebuah kertas kecil yang Haruka tinggalkan tadi.Haruka
hanya terkejut menatapnya.
“Kenapa tak menulis yang lain lagi?”
==0==
Haruka memandang sekeliling kamarnya.Tepatnya ke arah ranjangnya.Seorang
pria tertidur lelap dengan wajah damai di sana.Tak ada niat mendekatinya atau
mengusiknya sedikit saja.Di tambah lagi seorang bayi kecil di dekapan pria
tadi.Akhirnya Haruka membuka laci lain dan mendapati sebuah foto kecil
pernikahannya 1 tahun lalu.Haruka merekatkan foto itu pada lembar selanjutnya
buku tadi.
‘Suatu hal bernama
cinta akan menuntunmu ke satu tempat akhir.Perpisahan.Namun,sebelum mencapai
tempat itu,ada suatu peristirahatan sementara yang disebut ikatan.Bukan dengan
tali atau pita.Tapi dengan hati dan keyakinan.Dan,jika nanti tempat terakhirku
ku dapati….Aku hanya ingin sekali lagi kau mendengar ucapanku.SARANGHAEYO!’
“Kau bilang kenapa tidak menulis lagi?Sekarang aku sudah
menulis.Lama memang,tapi waktu bukan tumpuanku untuk menulis.Asal kau
disini,apalagi yang perlu ku harap?”
Haruka meletakkan kembali buku itu di meja.Kemudian ia
beranjak tidur di sebelah putra yang menghiasi hidupnya akhir akhir ini.Tak
lupa ia memandangi lagi suaminya.Dengan pandangan yang beredar pada kedua laki
laki kesayangannya,ia berucap “SARANGHAEYO” sebelum menutup matanya.
- When you write something about him,then love also write you in his destiny
Ketika kau menulis suatu hal tentang dirinya,maka cinta juga menulismu
dalam takdirnya