Sabtu, 10 Agustus 2013

I Write You

Fukuoka,20 September 2016
Lampu remang remang menyinari manik mata coklat Haruka.Sudah beberapa kali ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan kamarnya.Sudah lama juga ia terduduk di sebuah sofa yang langsung menghadap ke arah ranjangnya.Seketika kakinya tergerak untuk melangkah mendekati meja nakas.Perlahan tangan kanannya membuka sebuah laci dan mendapati sebuah buku di sana.

I Write You..” Bibir kecil Haruka menggumam.


Ia buka lembar pertama buku itu.Di sana terdapat sebuah foto seorang laki laki yang diambil dari samping kanan.Terlihat bahwa lelaki tersebut tengah menendang udara dengan nafasnya terbukti kepulan asap yang muncul di depan mulutnya,kontras dengan background awal musim semi.Ia juga  sedang memandang ke atas seolah telah menghabiskan waktu untuk menunggu.Haruka membuka lembar kedua dan melihat sederet tulisan di sana.

Menunggu kehangatan dengan nafas dinginmu…
Musim semi telah tiba.Seharusnya kota sedang sepi karena seluruh sekolah sedang ada pada jam pelajaran.Mengingat ini pukul 8 pagi.Tapi,berbanding terbalik dengan Incheon airport.Nampak ramai seolah manusia di sini sedang mencuri waktu sehingga tidak peduli padanya.Seorang gadis yang mengenakan jaket merah tebal dipadukan dengan syal putih juga jeans hitam yang tertutup setengah lutut oleh sepatu boot berwarna abu abu.
                
            Setelah sampai di salah satu tempat duduk,ia melihat seorang laki laki yang beranjak dari duduknya tak jauh dari kursi yang Haruka duduki.Kelihatan sedang menunggu seseorang dilihat dari gelagatnya.5 menit berlalu baik ia atau laki laki tadi tak menunjukkan pergerakan berarti semisal pergi keluar dari areal bandara.Tak lama,Haruka lebih memilih mengeluarkan kamera digital beserta sebuah buku dan pulpen dari tasnya.

Tanpa aba aba,ia mengambil gambar yang menurutnya bagus dengan kamera.Tepat pada saat laki laki yang tadi berdiri dengan ekspresi penuh bosan.Tanpa sadar senyum Haruka mengembang dan kemudian ia menuliskan beberapa kata pada bukunya.

‘Menunggu itu memang membosankan.Tapi,jika yang kau tunggu itu kehangatan maka kau akan merasakan kedinginan.Jika yang kau tunggu itu sebuah pelukan,maka yang kau temui saat ini adalah asap dingin udara awal musim semi.’
==0==

Haruka membuka lembar ketiga dan mendapati lagi sebuah foto lelaki yang sama di sana.Kali ini dari sisi belakang.Dengan rambut hitam lurus yang dibuat sedikit acak acakan.Sekilas mirip dengan Yunho TVXQ masa awal debut.Apalagi dengan tubuh tegapnya.Tapi yang berbeda,lelaki itu tampak tak lebih tinggi dari penyanyi itu.Yeah,meski lelaki tadi sedang duduk namun asumsi Haruka memang benar adanya.Ia buka lembar berikutnya dan mendapati deretan huruf.

Bersuara adalah suatu hal yang akan menciptakan hal lain…
                Kelas baru Haruka tampak tak terlalu tenang.10 menit yang lalu adalah bel masuk.Tapi,hingga saat ini guru yang jadwalnya mengajar tak kunjung datang.Beberapa murid perempuan memilih bergossip.4 orang murid laki laki juga sedang berbincang dengan 2 diantaranya duduk di atas meja.Mata Haruk kembali terfokus pada obyek di depannya.Seseorang yang sepertinya tengah menekuni sebuah buku.

“Kau punya correction pen?”

Seketika mata Haruka melebar dan dirinya setengah terlonjak kaget saat lelaki yang ia pandangi tadi tiba tiba berbalik dan bertanya padanya.

“Eh?Ya,tentu.”
Segera ia ambilkan barang yang diminta dan memberikannya pada laki laki tadi.

Gomawo.Aku Kim Joonhwa”

Cheonmaneyo.Aku Haruka.”
Setelah Junhwa berbalik,Haruka menuliskan sesuatu di buku.

Satu suara dengan 4 kata membuatku terkejut.Dua kalimat dengan suara sama membuatku tahu.’

==0==

Di lembar selanjutnya ia menemui sebuah foto Junhwa yang melangkah meninggalkan danau di sisi kirinya.

Genggam dan semuanya akan berhenti..
Hari itu adalah hari belajar di luar kelas bagi Haruka.Lokasi yang dipilih adalah sebuah taman dengan danau berair jernih di tengahnya.Tampak pohon pohon yang daunnya mulai melebat.Juga bunga bunga yang bermekaran.Danau itu tampaknya baru memulai kehidupan.Sudah Haruka pastikan bahwa air jernihnya adalah lelehan es beberapa minggu yang lalu.

“Anak anak,data hal yang membuat kalian tertarik di sini.Serahkan 30 menit lagi.Jika menemui kesulitan,tanyakan saja pada saya.”

“Baik,seonsaengnim.”

Tak butuh waktu lama semua murid yang tadinya berkumpul itu berhambur ke berbagai penjuru taman.Ada yang menuju bawah pohon yang cukup rindang,bukit berbunga,danau,atau bahkan hanya sekedar berjalan jalan di taman.

Haruka mengamati beberapa tangkai bunga snowdrop.Tak ada niat untuk mendatanya sebagai suatu hal yang membuatnya tertarik.Ia tertarik,memang.Tapi ia tak punya alasan yang bagus untuk diutarakan.Masa iya alasannya “karena mahkota bunganya berwarna putih mirip salju.aku suka salju.”?Alasan itu jauh sudah ia utarakan di sekolah dasar dulu.Akan terdengar kekanakan kalau ia tulis lagi.

Iris coklatnya mendapati sebuah daun kecil di pinggir danau.Ia mendekati daun yang berwarna ungu dan berbentuk hati sempurna tersebut.Dari beberapa daun lain yang megapung,hanya daun itu yang mampu menarik perhatiannya karena itu hanya satu satunya daun dengan warna ungu di sana.Haruka berjongkok dan berniat mengambil daun itu.Angin berhembus membawa daun itu makin ke tengah.haruka berusaha meraih namun naas lututnya yang dibuat bertumpu melongsorkan tanah pinggiran danau dan…

BYURR!

Ia tercebur ke dalam dinginnya air.Tawa meledak dari beberapa teman di sekeliling tempatnya tersebut.Hmm bukannya menolong malah menertawakan.Dengan perasaan malu ia mengusap wajahnya dengan tangan kanan.Sebuah tangan terulur di hadapannya.Tak peduli siapa orang itu,Haruka meraihnya dan keluar dari air.Seketika tawa orang orang tadi berhenti.

Haruka menggigil dengan lengan yang saling di silangkan di depan dada.Tiba tiba sebuah jas yang sama dengan miliknya yang sudah basah kuyup menutup punggung hingga bahunya.Haruka menoleh ke arah orang itu dan mendapati senyum ramah terukir di bibir Junhwa.Junhwa melangkah menjauhi Haruka.Sebelum langkahnya jauh,Haruka mengambil potretnya.

Dengan keadaan yang masih cukup basah dan jas Junhwa yang masih menyelimutinya ia menyerahkan tugas Kang seonsaengnim.Awalnya Kang seonsaengnim terus menanyainya.Setelah menjelaskan bahwa ini hanya accident kecil dan menerangkan ia tak apa,akhirnya  Kang seonsaengnim berhenti bertanya.Sebuah senyum manis mengembang di bibir Haruka.

Semula,daun indah menarikku menatapnya.Memanggilku menuju kearahnya.Namun,angin memberiku jalan untuk merasakan pelukan dingin air danau.Dengan genangan malu,aku akhirnya menangkap sebuah tangan yang terulur.Seketika tawa meledak sekitarku terhenti.Seiring dengan menguapnya dingin dari balik hangatnya jas milikmu.’

==0==

20 menit telah berlalu.Rangkaian kata kata yang Haruka buat sendiri seolah menghipnotis dunianya.Berkutat dengan alunan  kenangan dalam buku itu membuat Haruka tersenyum sampai tertawa kecil.Namun sesekali ia tampak menitikkan tetesan air mata.Terkadang karena haru,juga kadang karena sedih.Entah apa yang ia ingat dan ia baca hingga menguras waktu,emosi,dan memori.

Sampailah ia pada lembaran terakhir.Didapatinya sebuah foto langit cerah biru dengan aksen awan putih menghiasinya.Tak tampak foto Junhwa lagi di sana.Dengan inisiatif,ia membaca tulisan dibaliknya.

Kadang langit tak memberimu keterangan…
Perasaan senang,sedih,kecewa,tak rela,berkecamuk dalam hatinya.Langkah kakinya telah membawa tubuh gadis bernama Haruka itu menginjak kembali areal bandara internasional Korea.Incheon Airport.Kembali ke negaranya,bukanlah suatu hal yang menyedihkan namun juga tidak menggembirakan.Senang karena akan bertemu keluarganya,sedih harus meninggalkan Korea,kecewa entah karena apa,dan tak rela karena……….harus meninggalkan Junhwa.

“Hahh….beberapa menit lagi pesawatnya lepas landas.” Adu gadis itu kepada dirinya sendiri.Ia keluarkan ponselnya dan memotret langit cerah.Jarinya mengalun diatas sebuah buku.

Langit memberiku kecamuk perasaan.Ingin melintasinya yang berarti meninggalkan semuanya di sini.Atau tak menatap bahkan menyentuhnya sama sekali yang berarti tak membayar rindu ini.Seandainya seseorang itu di sini . . . . .
Tertanda,Kim Junhwa.’

Dengan berat hati,Haruka menuju pesawatnya.Ia meninggalkan selembar kertas kecil  di bangku tadi dengan tulisan hangul “SARANGHAEYO”.Tanpa Haruka ketahui,seorang laki laki bertopi hitam meraih kertas tersebut dan menuju ke pesawat yang sama dengan Haruka.

Di dalam pesawat,Haruka memandang sekeliling bandara.Sulit jika diminta untuk melupakan semuanya di sini.Sulit sekali.Seorang lelaki duduk di samping Haruka.Tak terlihat pergerakan Haruka yang berbalik menatapnya.Akhirnya lelaki itu mengeluarkan suara.

“Terkadang,langit tak memberimu keterangan…”
Spontan Haruka menoleh ke arah suara yang cukup familiar itu.

“Maksudnya?” Haruka belum tahu wajah siapa di balik topi hitam yang makin dibuat menutupi wajahnya.

“Langit tak memberimu keterangan bahwa kemungkinan yang kau pikirkan tadi salah atau benar.”
Junhwa membuka topinya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menyodorkan sebuah kertas kecil yang Haruka tinggalkan tadi.Haruka hanya terkejut menatapnya.

“Kenapa tak menulis yang lain lagi?”
==0==

Haruka memandang sekeliling kamarnya.Tepatnya ke arah ranjangnya.Seorang pria tertidur lelap dengan wajah damai di sana.Tak ada niat mendekatinya atau mengusiknya sedikit saja.Di tambah lagi seorang bayi kecil di dekapan pria tadi.Akhirnya Haruka membuka laci lain dan mendapati sebuah foto kecil pernikahannya 1 tahun lalu.Haruka merekatkan foto itu pada lembar selanjutnya buku tadi.

Suatu hal bernama cinta akan menuntunmu ke satu tempat akhir.Perpisahan.Namun,sebelum mencapai tempat itu,ada suatu peristirahatan sementara yang disebut ikatan.Bukan dengan tali atau pita.Tapi dengan hati dan keyakinan.Dan,jika nanti tempat terakhirku ku dapati….Aku hanya ingin sekali lagi kau mendengar ucapanku.SARANGHAEYO!’

“Kau bilang kenapa tidak menulis lagi?Sekarang aku sudah menulis.Lama memang,tapi waktu bukan tumpuanku untuk menulis.Asal kau disini,apalagi yang perlu ku harap?”

Haruka meletakkan kembali buku itu di meja.Kemudian ia beranjak tidur di sebelah putra yang menghiasi hidupnya akhir akhir ini.Tak lupa ia memandangi lagi suaminya.Dengan pandangan yang beredar pada kedua laki laki kesayangannya,ia berucap “SARANGHAEYO” sebelum menutup matanya.


- When you write something about him,then love also write you in his destiny
Ketika kau menulis suatu hal tentang dirinya,maka cinta juga menulismu dalam  takdirnya