Tahukah kau bagaimana
rasanya menyimpan sendiri?
Sudah
lama mereka saling terdiam.Beberapa kali Alice mencuri pandang terhadap iris
coklat yang sering memandang dalam dan tajam milik John.Beberapa kali pandangan
mereka bertemu,beberapa kali pula Alice memalingkan wajahnya.Entah ini sudah ke
berapa kali ia menghembuskan nafas gusar.Sedari tadi John hanya sibuk dengan
kertas di meja tersebut.Ini di café,tapi John tetap sibuk dengan not
notnya,bukannya memesan makanan.
Badan
Alice terasa pegal.Bagaimana tidak?Sudah hampir 1 jam mereka duduk tanpa suara
sedikitpun.Mungkin hanya decitan kursi dengan lantai yang diakibatkan Alice.
“Kalau kau lapar,pesanlah makanan.” Ucap John dingin tanpa
sedikitpun menatap lawan bicaranya.
“Kau saja.”
Ohh
Akhirnya…Setelah sekian lama mereka akhirnya bicara juga.Meski hanya beberapa
kata.Alice segera memesan makanan.Sambil menunggu makanan datang,ia melanjutkan
kembali aktivitasnya melihat mata John yang sibuk menatap kertas putih yang
kini penuh coretan itu.Beberapa kali lagi John mengedarkan pandangan ke arah
lain,sedang mencari inspirasi.Terkadang mengenai pandangan Alice.Entah baru
menyadari atau apa,John mengerutkan kening sambil menyipitkan sebelah matanya
yang sebenarnya sudah sipit.
“Kau kenapa?Ada yang salah denganku?”
“Ahh??Ng…. Tidak.”
“Lalu?”
“Aku…Aku…Aku me-“ Alice
tampak berpikir keras dan menimbang nimbang jawabannya.Namun John
menghentikannya.
“Sudah,lupakan.”
Perkataan
John jelas terasa menusuk bagi Alice.Susah payah ia mengumpulkan keberanian
untuk ini.Sayang sekali.
Dengar sesuatu tentang
cinta?Kau mengetahuinya?
Alice
sedang jalan jalan sambil memandangi banyak toko di pinggir jalan
tersebut.Pandangannya sering berhenti ketika mendapati fashion gaya baru yang
sedang dipajang dengan hebohnya.Sayang,sekat kaca memberinya sedikit kesempatan
untuk menikmatinya.Tiba tiba Jessie dengan nafas terengah engah datang
menghambur ke peluknya.Hampir saja ia terjungkal kebelakang kalau saja
keseimbangannya goyah lebih banyak.Tak lama kemudian terdengar isakan kecil
dari mulut Jessie.Alice merasakan badannya bergetar.Ia menatap bahu Jessie yang
bergetar hebat menahan isakannya.Sambil mencoba menenangkan Jessie dengan
mengelus punggungnya pelan,ia bertanya
“Jessie,ada apa?”
“Hiks….Hiks…Dan..Hiks..Danny…”
Danny adalah nama kekasih Jessie.Akhir akhir ini hubungan
mereka sedikit bermasalah.
“Kenapa dia?”
“Dia..hiks..berselingkuh di … hiks .. belakangku..”
Bukan
rahasia lagi bahwa Danny memiliki selingkuhan.Cowok satu itu memang terkenal playboy.Seharusnya
Jessie tak perlu menangis.Ini bukan kali pertamanya Danny bermesraan dengan
wanita lain.Dan Jessie sudah mengetahuinya.
“Lalu?” Alice memberanikan diri untuk bertanya.
“Dia mengakhiri hubungankami secara sepihak.” Tangis Jessie
mulai mereda.
“Jessie,listen to me!Dia
itu lelaki jahat yang hanya mencari kesenangan sesaat dengan wanita.Bukankah
kau sudah melihat berapa banyak wanita yang dicampakkannya?”
“Tapi aku mencintainya.”
“Hahh…apa itu cinta?” Bukan berniat menyindir.Alice sendiri
memang bingung dengan kata itu.Apakah cinta adalah hal bodoh yang membuatmu
melupakan kenyataan bahwa kau sudah berkali kali disakiti?Hanya karena cinta?Oh God!
“Kau memang tak pernah merasakannya…Tapi,entahlah!Sudah jangan
dipikirkan yang tadi.”
Aneh.Mood Jessie kembali membaik.Ternyata jiwanya teralih
untuk lebih memilih memasuki salah satu toko fashion yang tadi sedang dilihat
Alice.Memang hanya pajangannya,bukan tokonya.
Kau tahu apa itu
sakit?Pernahkah kau merasakannya?Apa sakitmu sesakit yang aku rasakan di
sini(hati)?
Alice
dan Jessie menikmati orange juice
dengan tenang di cafeteria kampus.Kuliah
mereka untuk hari ini sudah berakhir.Seharusnya mereka pulang ke rumah untuk
sekedar melepas lelah.Tapi nyatanya mereka memiliki cara lain untuk
menghilangkan lelah mereka.
“Jessie,bagaimana dengan kuliah terakhirmu
tadi?Menyenangkan?”
“Huh!Kau berniat menyindirku ya?”
“Aku kan bertanya baik baik Jessie-ah~.” Suara Alice sengaja dibuat semanis mungkin.
“Terserah apa katamu,dan jangan gunakan nada bicara seperti
itu.Kau semakin membuatku membenci dosen bermata empat yang sudah setengah abad
itu.”
Seketika
tawa Alice meledak mendengar sindiran Jessie yang tepat mengenai salah satu
dosen yang mereka anggap kegenitan tingkat dewa.Alice terus saja tertawa ketika
tiba tiba melihat John memasuki cafeteria
dan mencari meja kosong.Entah hanya perasaannya atau memang benar,Jessie seolah
olah tengah menatap John dengan pandangan yang sulit diartikan bagi
Alice.Kemudian ia melihat John yang melambaikan tangan ke arahnya.Ia akan membalas
lambaian tangan tersebut,namun diurungkan saat Jessie membalas lambaian John
dengan sangat manis.Tak lama,John segera melangkah mendekati meja mereka.
“Hi,John!Duduk di
sini saja.”
“Mmm…lebih baik kita mencari meja untuk kita berdua saja.”
Pandangan John seolah tengah mengusir Alice.
“Ahh..Maaf Alice.Bisakah kau mencari meja lain dan
meninggalkanku berdua saja dengan kekasihku?”
“MWO?Ehh…iya,iya.Lagipula
aku mau pulang.Selamat menikmati waktu kalian,bye~”
Dengan
segera Alice pergi dari tempat itu.Dadanya terasa di tusuk ratusan pisau
tajam.Sakit sekali.Udara serasa mencekiknya sendiri.Ia merasakan sesak yang
teramat sangat.Ia meninggalkan cafeteria sambil
menggigit bibir kuat kuat karena mendapati matanya terasa panas.
Jadi jawaban atas
cinta,inikah?
Alice
memandang sekeliling kotanya dari atas sebuah gedung.Kelihatannya ia focus,tapi
sebenarnya pandangannya tengah kosong.Pikirannya jauh melayang kearah di mana
ia mendapat sebuah amplop merah berbentuk hati yang diserahkan John
untuknya.Sebenarnya sudah lama ia mendapatkannya.2 hari sebelum kejadian di cafeteria itu tepatnya.Namun,hingga kini
ia masih urung untuk membukanya.Angin malam semakin gencar bertiup.Jaket tebal
yang menghangatkan tubuhnya terasa belum cukup melindunginya.Tiba tiba ia jadi
ingin mengetahui isi amplop kemarin.Alice merogoh saku jaketnya dan kemudian
membukanya.Ia menemui sebuah kertas terlipat berwarna merah muda.Perlahan ia
membaca isi suratnya.
Dear friend,
Kalau kau mendapat surat ini dariku sudah pasti kau orang yang special
.
Alice tersenyum.
Boleh dikatakan ini adalah surat cinta.
Hah??Alice sedikit terperanjat dengan kata barusan.
Bukan!Bukan untuk menyatakan cintaku padamu dan memintamu menjadi kekasihku.
Lalu?Tiba tiba dada Alice kembali sesak.
Aku mengatakan ini surat cinta karena aku ingin memberitahukan bahwa
isi surat ini sesungguhnya menggambarkan bagaimana cintaku.
“Memangnya bagaimana?” gumam Alice
Cintaku telah berlabuh pada hati yang tepat.Aku akan bertunangan.
Dengan surat ini,ku mohon kau datang ke rumahku sebagai tamu special minggu depan.
Dengan surat ini,ku mohon kau datang ke rumahku sebagai tamu special minggu depan.
Sincerely,
John
Park
“Ahahahaha…hahaha” Tiba tiba Alice tertawa layaknya
seseorang yang kehilangan kendali.Namun tiba tiba ia menangis tersedu sedu.Di
sela tangisnya,ia berkata, “Aku baru tahu kalau kau bisa bicara dengan
akrab.Meski hanya lewat surat.Aku ikut bahagia.”
Setelah berkata seperti itu,Alice
berdiri dari duduknya.Dengan gerakan cepat ia meremas surat tadi dan
melemparnya jauh dari atas gedung tersebut.Sepertinya Alice tengah dikuasai
emosi jiwa,hingga entah ia sadari atau tidak ia berjalan ke tepi dari atap
gedung tersebut.Ia merentangkan kedua tangannya.Dalam hati Alice berucap,
‘Kita memilih jalan yang berbeda.Kita di
kehidupan yang sama,tapi bukan berarti kita ditakdirkan bersama.Dan
kurasa,inilah cinta.’
Dari ketinggian,samar samar Alice berteriak miris.Ia melepaskan
kakinya yang menapak di atas gedung kemudian menjatuhkan diri dari
sana.Selanjutnya,hanya Tuhan dan Alice yang tahu~
~Epilog
“John,kau yakin rencana kita berhasil?Alice sudah terlambat
untuk datang.Aku takut dia akan dendam padaku karena berpura pura jadi
kekasihmu.” Jessie mengomel kepada John setelah mondar mandir menunggu
kedatangan sahabatnya,Alice.
“Entahlah..” Sahut John singkat sambil memandang jam yang
melingkar di pergelangan tangannya.
John hanya dapat menunggu dan
menunggu kedatangan Alice untuk datang ke acara pertunangannya.Bukan,tapi
pertunangan mereka berdua.John tidak tahu kalau Alice telah salah sangka dengan
isi surat tersebut.Di sana jelas jelas tak dicantumkan nama orang yang akan
menjadi tunangan John.Ia sengaja karena sesungguhnya surat itu limited edition.Surat itu khusus untuk
Alice.Tentu saja para undangan yang lain mendapat surat tersendiri. Ya,siapa
sangka surat yang seharusnya menjadi kejutan dan membuat Alice bertanya tanya penasaran
malah akan menjadi surat terakhir di takdir cinta mereka.Tuhan punya rencana
lain,percayalah.
- We chose different
path. We are in the same life, but that doesn’t mean we are meant to be
together.