Minggu, 21 Juli 2013

The Day After Love

Tahukah kau bagaimana rasanya menyimpan sendiri?
               
            Sudah lama mereka saling terdiam.Beberapa kali Alice mencuri pandang terhadap iris coklat yang sering memandang dalam dan tajam milik John.Beberapa kali pandangan mereka bertemu,beberapa kali pula Alice memalingkan wajahnya.Entah ini sudah ke berapa kali ia menghembuskan nafas gusar.Sedari tadi John hanya sibuk dengan kertas di meja tersebut.Ini di café,tapi John tetap sibuk dengan not notnya,bukannya memesan makanan.
              
            Badan Alice terasa pegal.Bagaimana tidak?Sudah hampir 1 jam mereka duduk tanpa suara sedikitpun.Mungkin hanya decitan kursi dengan lantai yang diakibatkan Alice.

“Kalau kau lapar,pesanlah makanan.” Ucap John dingin tanpa sedikitpun menatap lawan bicaranya.

“Aku?Bagaimana denganmu?”

“Kau saja.”
              
            Ohh Akhirnya…Setelah sekian lama mereka akhirnya bicara juga.Meski hanya beberapa kata.Alice segera memesan makanan.Sambil menunggu makanan datang,ia melanjutkan kembali aktivitasnya melihat mata John yang sibuk menatap kertas putih yang kini penuh coretan itu.Beberapa kali lagi John mengedarkan pandangan ke arah lain,sedang mencari inspirasi.Terkadang mengenai pandangan Alice.Entah baru menyadari atau apa,John mengerutkan kening sambil menyipitkan sebelah matanya yang sebenarnya sudah sipit.

“Kau kenapa?Ada yang salah denganku?”

“Ahh??Ng…. Tidak.”

“Lalu?”

“Aku…Aku…Aku me-“  Alice tampak berpikir keras dan menimbang nimbang jawabannya.Namun John menghentikannya.

“Sudah,lupakan.”
                
            Perkataan John jelas terasa menusuk bagi Alice.Susah payah ia mengumpulkan keberanian untuk ini.Sayang sekali.

Dengar sesuatu tentang cinta?Kau mengetahuinya?
             
             Alice sedang jalan jalan sambil memandangi banyak toko di pinggir jalan tersebut.Pandangannya sering berhenti ketika mendapati fashion gaya baru yang sedang dipajang dengan hebohnya.Sayang,sekat kaca memberinya sedikit kesempatan untuk menikmatinya.Tiba tiba Jessie dengan nafas terengah engah datang menghambur ke peluknya.Hampir saja ia terjungkal kebelakang kalau saja keseimbangannya goyah lebih banyak.Tak lama kemudian terdengar isakan kecil dari mulut Jessie.Alice merasakan badannya bergetar.Ia menatap bahu Jessie yang bergetar hebat menahan isakannya.Sambil mencoba menenangkan Jessie dengan mengelus punggungnya pelan,ia bertanya

“Jessie,ada apa?”

“Hiks….Hiks…Dan..Hiks..Danny…”
Danny adalah nama kekasih Jessie.Akhir akhir ini hubungan mereka sedikit bermasalah.

“Kenapa dia?”

“Dia..hiks..berselingkuh di … hiks .. belakangku..”
               
            Bukan rahasia lagi bahwa Danny memiliki selingkuhan.Cowok satu itu memang terkenal playboy.Seharusnya Jessie tak perlu menangis.Ini bukan kali pertamanya Danny bermesraan dengan wanita lain.Dan Jessie sudah mengetahuinya.

“Lalu?” Alice memberanikan diri untuk bertanya.

“Dia mengakhiri hubungankami secara sepihak.” Tangis Jessie mulai mereda.

“Jessie,listen to me!Dia itu lelaki jahat yang hanya mencari kesenangan sesaat dengan wanita.Bukankah kau sudah melihat berapa banyak wanita yang dicampakkannya?”

“Tapi aku mencintainya.”

“Hahh…apa itu cinta?” Bukan berniat menyindir.Alice sendiri memang bingung dengan kata itu.Apakah cinta adalah hal bodoh yang membuatmu melupakan kenyataan bahwa kau sudah berkali kali disakiti?Hanya karena cinta?Oh God!

“Kau memang tak pernah merasakannya…Tapi,entahlah!Sudah jangan dipikirkan  yang tadi.”

Aneh.Mood Jessie kembali membaik.Ternyata jiwanya teralih untuk lebih memilih memasuki salah satu toko fashion yang tadi sedang dilihat Alice.Memang hanya pajangannya,bukan tokonya.

Kau tahu apa itu sakit?Pernahkah kau merasakannya?Apa sakitmu sesakit yang aku rasakan di sini(hati)?
              
            Alice dan Jessie menikmati orange juice dengan tenang di cafeteria kampus.Kuliah mereka untuk hari ini sudah berakhir.Seharusnya mereka pulang ke rumah untuk sekedar melepas lelah.Tapi nyatanya mereka memiliki cara lain untuk menghilangkan lelah mereka.

“Jessie,bagaimana dengan kuliah terakhirmu tadi?Menyenangkan?”

“Huh!Kau berniat menyindirku ya?”

“Aku kan bertanya baik baik Jessie-ah~.” Suara Alice sengaja dibuat semanis mungkin.

“Terserah apa katamu,dan jangan gunakan nada bicara seperti itu.Kau semakin membuatku membenci dosen bermata empat yang sudah setengah abad itu.”
                
            Seketika tawa Alice meledak mendengar sindiran Jessie yang tepat mengenai salah satu dosen yang mereka anggap kegenitan tingkat dewa.Alice terus saja tertawa ketika tiba tiba melihat John memasuki cafeteria dan mencari meja kosong.Entah hanya perasaannya atau memang benar,Jessie seolah olah tengah menatap John dengan pandangan yang sulit diartikan bagi Alice.Kemudian ia melihat John yang melambaikan tangan ke arahnya.Ia akan membalas lambaian tangan tersebut,namun diurungkan saat Jessie membalas lambaian John dengan sangat manis.Tak lama,John segera melangkah mendekati meja mereka.

Hi,John!Duduk di sini saja.”

“Mmm…lebih baik kita mencari meja untuk kita berdua saja.” Pandangan John seolah tengah mengusir Alice.

“Ahh..Maaf Alice.Bisakah kau mencari meja lain dan meninggalkanku berdua saja dengan kekasihku?”

MWO?Ehh…iya,iya.Lagipula aku mau pulang.Selamat menikmati waktu kalian,bye~”
                
            Dengan segera Alice pergi dari tempat itu.Dadanya terasa di tusuk ratusan pisau tajam.Sakit sekali.Udara serasa mencekiknya sendiri.Ia merasakan sesak yang teramat sangat.Ia meninggalkan cafeteria sambil menggigit bibir kuat kuat karena mendapati matanya terasa panas.

Jadi jawaban atas cinta,inikah?
               
            Alice memandang sekeliling kotanya dari atas sebuah gedung.Kelihatannya ia focus,tapi sebenarnya pandangannya tengah kosong.Pikirannya jauh melayang kearah di mana ia mendapat sebuah amplop merah berbentuk hati yang diserahkan John untuknya.Sebenarnya sudah lama ia mendapatkannya.2 hari sebelum kejadian di cafeteria itu tepatnya.Namun,hingga kini ia masih urung untuk membukanya.Angin malam semakin gencar bertiup.Jaket tebal yang menghangatkan tubuhnya terasa belum cukup melindunginya.Tiba tiba ia jadi ingin mengetahui isi amplop kemarin.Alice merogoh saku jaketnya dan kemudian membukanya.Ia menemui sebuah kertas terlipat berwarna merah muda.Perlahan ia membaca isi suratnya.

Dear friend,
Kalau kau mendapat surat ini dariku sudah pasti kau orang yang special .

Alice tersenyum.

Boleh dikatakan ini adalah surat cinta.

Hah??Alice sedikit terperanjat dengan kata barusan.

Bukan!Bukan untuk menyatakan cintaku padamu dan memintamu menjadi kekasihku.

Lalu?Tiba tiba dada Alice kembali sesak.

Aku mengatakan ini surat cinta karena aku ingin memberitahukan bahwa isi surat ini sesungguhnya menggambarkan bagaimana cintaku.

“Memangnya bagaimana?” gumam Alice

Cintaku telah berlabuh pada hati yang tepat.Aku akan bertunangan.
Dengan surat ini,ku mohon kau datang ke rumahku sebagai tamu special minggu depan.
                                                                                                               
Sincerely,
                                                                                   
                                                                                  John Park

“Ahahahaha…hahaha” Tiba tiba Alice tertawa layaknya seseorang yang kehilangan kendali.Namun tiba tiba ia menangis tersedu sedu.Di sela tangisnya,ia berkata, “Aku baru tahu kalau kau bisa bicara dengan akrab.Meski hanya lewat surat.Aku ikut bahagia.”

Setelah berkata seperti itu,Alice berdiri dari duduknya.Dengan gerakan cepat ia meremas surat tadi dan melemparnya jauh dari atas gedung tersebut.Sepertinya Alice tengah dikuasai emosi jiwa,hingga entah ia sadari atau tidak ia berjalan ke tepi dari atap gedung tersebut.Ia merentangkan kedua tangannya.Dalam hati Alice berucap,
Kita memilih jalan yang berbeda.Kita di kehidupan yang sama,tapi bukan berarti kita ditakdirkan bersama.Dan kurasa,inilah cinta.’

Dari ketinggian,samar samar Alice berteriak miris.Ia melepaskan kakinya yang menapak di atas gedung kemudian menjatuhkan diri dari sana.Selanjutnya,hanya Tuhan dan Alice yang tahu~


~Epilog

“John,kau yakin rencana kita berhasil?Alice sudah terlambat untuk datang.Aku takut dia akan dendam padaku karena berpura pura jadi kekasihmu.” Jessie mengomel kepada John setelah mondar mandir menunggu kedatangan sahabatnya,Alice.

“Entahlah..” Sahut John singkat sambil memandang jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

John hanya dapat menunggu dan menunggu kedatangan Alice untuk datang ke acara pertunangannya.Bukan,tapi pertunangan mereka berdua.John tidak tahu kalau Alice telah salah sangka dengan isi surat tersebut.Di sana jelas jelas tak dicantumkan nama orang yang akan menjadi tunangan John.Ia sengaja karena sesungguhnya surat itu limited edition.Surat itu khusus untuk Alice.Tentu saja para undangan yang lain mendapat surat tersendiri. Ya,siapa sangka surat yang seharusnya menjadi kejutan dan membuat Alice bertanya tanya penasaran malah akan menjadi surat terakhir di takdir cinta mereka.Tuhan punya rencana lain,percayalah.


- We chose different path. We are in the same life, but that doesn’t mean we are meant to be together.